LEPA Boeng Tolak MoU Pemda Halut–PT NHM, Nilai Pembangunan Jauh dari Wilayah Penghasil

Rabu, 29 April 2026 - 07:24 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

tajukmalut.com | Jakarta– Lembaga Pemuda Adat (LEPA) Boeng menyatakan penolakan tegas terhadap rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Daerah Halmahera Utara dan PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) terkait pembangunan rumah sakit dan rumah susun di Tobelo.

Penolakan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum LEPA Boeng, Rofindri Djinimangale. Ia menilai kebijakan pembangunan itu tidak hanya keliru dari sisi perencanaan, tetapi juga mencerminkan pola pembangunan yang timpang, sentralistik, dan mengabaikan keadilan sosial bagi masyarakat di wilayah lingkar tambang.

Menurut Rofindri, wilayah Kao selama ini menjadi daerah yang menanggung beban eksploitasi sumber daya alam, termasuk dampak sosial dan ekologis dari aktivitas industri. Namun, ketika manfaat pembangunan hendak didistribusikan, masyarakat di wilayah tersebut justru kembali terpinggirkan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tanah kami dihisap, ruang hidup kami dikorbankan, tetapi fasilitas publik justru dibangun jauh dari wilayah yang paling lama memikul konsekuensi pembangunan. Ini ironi sekaligus bentuk nyata ketidakadilan struktural,” tegasnya.

LEPA Boeng menilai pemerintah daerah terlalu berorientasi pada kepentingan modal, bukan kebutuhan riil masyarakat. Kebijakan pembangunan yang memusatkan fasilitas di wilayah tertentu dianggap berpotensi memperlebar kesenjangan antarwilayah.

“Ketika wilayah penghasil hanya dijadikan ladang eksploitasi, sementara pusat pelayanan dibangun di lokasi yang lebih strategis secara politik, maka pembangunan bukan lagi soal kesejahteraan, tetapi alat reproduksi ketimpangan,” ujarnya.

Rofindri juga mengkritik narasi pemerataan yang kerap dijadikan alasan oleh pemerintah. Menurutnya, konsep pemerataan tidak bisa dimaknai dengan memusatkan fasilitas di daerah yang sudah berkembang, melainkan menghadirkan layanan dasar di wilayah yang selama ini terpinggirkan.

Ia menegaskan, fasilitas kesehatan seperti rumah sakit seharusnya dibangun lebih dekat dengan masyarakat lingkar tambang, termasuk buruh, petani, nelayan, serta kelompok rentan yang paling terdampak oleh aktivitas industri.

“Rumah sakit harus hadir di tengah masyarakat yang paling membutuhkan, bukan justru dijauhkan dari mereka,” katanya.

LEPA Boeng juga mengingatkan bahwa wilayah Kao memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah. Oleh karena itu, pembangunan dinilai harus dikembalikan ke wilayah yang selama ini menjadi sumber utama aktivitas ekonomi tersebut.

“Kao bukan halaman belakang, bukan wilayah buangan. Kao adalah jantung yang memberi napas bagi ekonomi daerah. Jika emas diambil dari Kao, maka keadilan juga harus dibangun di Kao, bukan di tempat lain,” pungkasnya.(red)

Komentar

Berita Terkait

Tokoh Maluku Utara Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan, Tolak Peringatan OPM 1 Juli & Waspadai Narasi Provokatif yang Mengancam Keutuhan Bangsa
DIREKTUR DATAINDO DESAK KPK USUT DUGAAN KERUGIAN NEGARA PROYEK JALAN KAPORO–CAPALULU SULA RP 45,5 MILIAR
Hasby Yusuf Kritik Pemotongan TKD: Daerah Bukan Pasien Pemerintah Pusat, Fiskal Harus Dikelola Secara Adil
Terima MRP Papua Barat, Hasby Yusuf Dorong Penguatan MRP
Masuk Timja RUU Pengelolaan Keuangan Haji, Hasby Yusuf: Dorong Tata Kelola Dana Haji yang Profesional dan Transparan
GMNI Malut Desak KPK Usut Dugaan Penyimpangan Proyek Jalan Trans Kie-Raha
DPP GMNI Mendesak Gubernur Maluku Utara untuk Turun Menyelesaikan Sengketa Agraria di Halut
SMIT Kecam Penetapan DPO Perempuan Adat di Halut: Negara Dinilai Lindungi Modal, Bukan Rakyat
Berita ini 232 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 16:29 WIT

Tokoh Maluku Utara Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan, Tolak Peringatan OPM 1 Juli & Waspadai Narasi Provokatif yang Mengancam Keutuhan Bangsa

Minggu, 14 Juni 2026 - 13:00 WIT

DIREKTUR DATAINDO DESAK KPK USUT DUGAAN KERUGIAN NEGARA PROYEK JALAN KAPORO–CAPALULU SULA RP 45,5 MILIAR

Senin, 8 Juni 2026 - 03:17 WIT

Hasby Yusuf Kritik Pemotongan TKD: Daerah Bukan Pasien Pemerintah Pusat, Fiskal Harus Dikelola Secara Adil

Jumat, 5 Juni 2026 - 03:17 WIT

Terima MRP Papua Barat, Hasby Yusuf Dorong Penguatan MRP

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:14 WIT

Masuk Timja RUU Pengelolaan Keuangan Haji, Hasby Yusuf: Dorong Tata Kelola Dana Haji yang Profesional dan Transparan

Senin, 25 Mei 2026 - 08:47 WIT

GMNI Malut Desak KPK Usut Dugaan Penyimpangan Proyek Jalan Trans Kie-Raha

Jumat, 22 Mei 2026 - 01:31 WIT

DPP GMNI Mendesak Gubernur Maluku Utara untuk Turun Menyelesaikan Sengketa Agraria di Halut

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:19 WIT

SMIT Kecam Penetapan DPO Perempuan Adat di Halut: Negara Dinilai Lindungi Modal, Bukan Rakyat

Berita Terbaru

Opini

Hedging ala Prabowo: Perubahan Peta Impor Minyak Nasional?

Selasa, 30 Jun 2026 - 10:46 WIT