Taipan Berkedok Perusahaan Negara Wajib Bertanggung Jawab atas Kerusakan Sistemik di Halmahera Timur

Senin, 4 Mei 2026 - 06:52 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

tajukmalut.com | Jakarta, 04/05/2026 – Aktivitas pertambangan dan pembangunan kawasan industri baterai kendaraan listrik di Teluk Buli, Kabupaten Halmahera Timur, kembali menuai sorotan tajam. Dugaan pencemaran Kali Kukuba hingga pesisir Teluk Buli menjadi bukti nyata bahwa eksploitasi sumber daya nikel semakin memperlihatkan wajah oligarki tambang yang bersembunyi di balik legitimasi perusahaan negara.

Di tengah narasi hilirisasi nasional, masyarakat Halmahera Timur justru menghadapi ancaman serius berupa kerusakan ekologis, hilangnya ruang hidup, serta rusaknya sumber penghidupan nelayan dan warga pesisir.

Fakta ini menunjukkan bahwa proyek strategis nasional tidak boleh dijadikan tameng untuk membenarkan penghancuran lingkungan secara sistemik.

Sorotan juga tertuju pada keterlibatan para taipan besar dalam pusaran bisnis tambang dan energi di kawasan Teluk Buli. Nama Prajogo Pangestu disebut sebagai salah satu aktor kunci dalam penguasaan sektor strategis tersebut. Melalui afiliasinya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, telah dilakukan groundbreaking proyek pembangkit listrik berkapasitas 680 MW di Halmahera Timur yang menopang operasional industri tambang dan hilirisasi nikel.

Di sisi lain, PT Presisi juga tercatat baru memenangkan lelang di Blok Kaf hanya beberapa hari lalu. Perkembangan ini menegaskan bahwa konsolidasi penguasaan sumber daya alam di Halmahera Timur berlangsung sangat cepat dan terpusat pada kelompok korporasi tertentu.

Secara ekonomi-politik, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari struktur oligarki nasional. Prajogo Pangestu diketahui memiliki kekayaan sekitar USD 20,9 miliar, diikuti oleh Low Tuck Kwong dan Budi Hartono. Sebagian besar kekayaan para elite tersebut berasal dari sektor energi, pertambangan, perbankan, dan industri—yang menunjukkan dominasi konglomerasi besar dalam struktur ekonomi nasional Indonesia.

Model pembangunan seperti ini memperlihatkan bagaimana negara berpotensi dijadikan instrumen akumulasi modal elite, sementara masyarakat lokal menanggung beban sosial dan ekologis. Jika korporasi besar terus memperoleh akses luas atas kawasan tambang strategis tanpa jaminan perlindungan lingkungan dan keadilan sosial, maka pemerintah wajib bertindak tegas.

Direktur Riset dan Opini Anatomi Pertambangan Indonesia (API), Safrudin Taher, menegaskan bahwa kondisi ini merupakan alarm serius bagi masa depan tata kelola sumber daya alam nasional.

“Negara tidak boleh tunduk pada kepentingan taipan yang berlindung di balik perusahaan negara. Jika kerusakan ekologis terus dibiarkan, maka ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat konstitusi bahwa sumber daya alam harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” tegas Safrudin.

Ia juga menyoroti kemenangan PT Presisi di Blok Kaf yang dinilai perlu diawasi secara transparan, termasuk menelusuri jejaring kekuatan ekonomi-politik di baliknya.

“Halmahera Timur sedang menghadapi ancaman kerusakan sistemik. Pemerintah harus memastikan bahwa investasi tidak berubah menjadi kolonialisasi baru atas tanah, laut, dan masa depan masyarakat lokal,” tambahnya.

Kerusakan di Halmahera Timur bukan lagi sekadar persoalan pencemaran biasa, melainkan indikasi kuat adanya kerusakan sistemik akibat kolaborasi kekuasaan, oligarki bisnis, dan lemahnya pengawasan negara.

Pemerintah pusat, Kementerian ESDM, KLH, serta aparat penegak hukum didesak untuk segera mengevaluasi seluruh izin pertambangan dan pembangunan industri di Teluk Buli, mengusut aktor korporasi maupun elite ekonomi-politik yang terlibat, memastikan pemulihan lingkungan secara menyeluruh dan menjamin perlindungan hak hidup masyarakat lokal

Halmahera Timur tidak boleh terus menjadi korban ambisi industrialisasi nasional yang hanya menguntungkan segelintir elite. Taipan, investor, maupun perusahaan negara wajib bertanggung jawab penuh atas seluruh kerusakan ekologis dan sosial yang terjadi.(red)

Komentar

Berita Terkait

Alokasi DBH Halsel Rp102,8 Miliar Disorot, GPRH Desak KPK dan Kejagung Usut Dugaan Suap
Senator Hasby Yusuf Apresiasi Dosen UI Inisiatori Lumbung Pangan 3T Morotai sebagai Nominator DPD RI Award 2026
Formapas Malut Desak KPK Bongkar Total Kasus Mantan Kepala Balai IX: Jangan Biarkan Nama di Dakwaan Jadi Catatan Kaki
Central Pemuda Halmahera Desak Penegak Hukum Selidiki Dugaan Kejanggalan Proyek Swakelola Rp.6,7 MILIAR pada Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Utara
Dugaan Keterlibatan Kepala BPJN dalam Proyek Dapur MBG FAI Desak Kepala BGN Evaluasi Total SPPG di Maluku Utara dan Cabut izin operasi Yayasan Abdi Bangun Negeri
Soal Pertemuan Pemprov Malut-Harita Group, Tokoh Muda Desak Jalan Lingkar Obi Diprioritaskan ‎
DataIndo: Komitmen Sufmi Dasco Ahmad Adalah Bukti Negara Butuh “Wasit yang Fair
BUPATI HALMAHERA UTARA DINILAI INGKAR JANJI, WARGA HALUT JAKARTA MENGECAM SIKAP ABAI
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 05:02 WIT

Alokasi DBH Halsel Rp102,8 Miliar Disorot, GPRH Desak KPK dan Kejagung Usut Dugaan Suap

Jumat, 11 September 2026 - 16:27 WIT

Senator Hasby Yusuf Apresiasi Dosen UI Inisiatori Lumbung Pangan 3T Morotai sebagai Nominator DPD RI Award 2026

Rabu, 9 September 2026 - 01:16 WIT

Formapas Malut Desak KPK Bongkar Total Kasus Mantan Kepala Balai IX: Jangan Biarkan Nama di Dakwaan Jadi Catatan Kaki

Selasa, 8 September 2026 - 06:50 WIT

Central Pemuda Halmahera Desak Penegak Hukum Selidiki Dugaan Kejanggalan Proyek Swakelola Rp.6,7 MILIAR pada Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Utara

Selasa, 8 September 2026 - 06:40 WIT

Dugaan Keterlibatan Kepala BPJN dalam Proyek Dapur MBG FAI Desak Kepala BGN Evaluasi Total SPPG di Maluku Utara dan Cabut izin operasi Yayasan Abdi Bangun Negeri

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 01:27 WIT

Soal Pertemuan Pemprov Malut-Harita Group, Tokoh Muda Desak Jalan Lingkar Obi Diprioritaskan ‎

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:08 WIT

DataIndo: Komitmen Sufmi Dasco Ahmad Adalah Bukti Negara Butuh “Wasit yang Fair

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:47 WIT

BUPATI HALMAHERA UTARA DINILAI INGKAR JANJI, WARGA HALUT JAKARTA MENGECAM SIKAP ABAI

Berita Terbaru