Jalan Loloda Di Antara Janji Pembangunan dan Realita yang Berdebu

Rabu, 12 November 2025 - 05:14 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

R.Libahongi

Di ujung barat laut Halmahera, wilayah Loloda berdiri dengan pesona alam dan potensi besar yang jarang tersentuh pembangunan. Namun di balik keindahan laut dan pegunungannya, ada kenyataan pahit yang menampar nurani: akses jalan yang rusak parah, terputus, dan seolah dilupakan oleh kebijakan pembangunan.

Selama bertahun-tahun, masyarakat Loloda dijanjikan jalan penghubung yang layak antara Tobelo dan Loloda Utara jalan yang konon akan membuka isolasi, menurunkan harga barang, dan mempercepat pelayanan publik. Namun hingga kini, yang hadir bukan konektivitas, melainkan derita debu, lumpur, dan batu di sepanjang jalur yang disebut “jalan utama.”

ADVERTISEMENT

alt="ads" />

SCROLL TO RESUME CONTENT

Janji yang Tak Kunjung Tiba di Tanah Terpencil.!
Sejak awal dekade 2010-an, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara hingga Pemerintah Provinsi Maluku Utara telah menempatkan ruas jalan Tobelo–Loloda sebagai proyek prioritas. Bahkan, dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), jalan ini disebut sebagai konektor strategis wilayah pesisir barat yang diharapkan membuka akses ekonomi baru.

Namun, realitas di lapangan sangat jauh dari harapan. Hanya sebagian kecil ruas jalan yang beraspal, sementara sisanya berlumpur saat hujan dan berdebu saat kemarau. Banyak titik longsor, jembatan darurat dari kayu, dan badan jalan yang menyempit akibat erosi. Angkutan logistik kerap terhenti berjam-jam, bahkan berhari-hari. Biaya transportasi melonjak dua hingga tiga kali lipat, dan warga Loloda masih harus menempuh perjalanan panjang yang melelahkan untuk mencapai pusat layanan di Tobelo.

Ironi Anggaran dan Ketimpangan Prioritas
Kondisi jalan di Loloda menunjukkan bagaimana pembangunan infrastruktur di Maluku Utara masih terjebak pada logika politik, bukan kebutuhan publik. Dalam APBD provinsi, setiap tahun muncul alokasi untuk “peningkatan jalan strategis provinsi,” namun ruas Loloda jarang menjadi prioritas.

Menurut data Dinas PUPR Maluku Utara tahun 2024, lebih dari 45% ruas jalan provinsi di Halmahera Utara masih dalam kondisi rusak dan tidak mantap, termasuk sebagian besar jalur menuju Loloda. Ironisnya, dana infrastruktur justru banyak terserap pada proyek-proyek baru seperti Trans Kie Raha yang lebih bernuansa seremonial dibandingkan urgensi pelayanan publik.

Warga mulai bertanya-tanya: kapan jalan loloda akan dilirik dan diperhatikan dengan serius. mengapa jalan yang menyambung kehidupan di wilayah pesisir dan kepulauan dibiarkan seperti ini ?

Keadilan Pembangunan yang Masih Sebatas Retorika
Konektivitas bukan hanya soal jalan; ia adalah simbol keadilan. Ketika wilayah seperti Loloda terus tertinggal dalam infrastruktur dasar, itu berarti Negara masih gagal menghadirkan rasa keadilan. Pembangunan tidak bisa hanya terkonsentrasi di Sofifi, Tobelo, atau kawasan tambang besar di Weda.

Jalan di Loloda bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi urat nadi bagi layanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi rakyat. Jalan rusak berarti ibu hamil terlambat ditangani, hasil nelayan sulit dijual, dan anak sekolah harus menempuh perjalanan berbahaya. Dalam konteks itu, debu di jalan Loloda adalah simbol dari kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak.

Jalan Loloda: Di Antara Janji Pembangunan dan Realita yang Berdebu” bukan sekadar metafora. Ia adalah potret nyata tentang bagaimana sebagian rakyat Maluku Utara masih harus berjalan di atas batu dan debu, sementara wacana “pemerataan pembangunan” hanya bergaung di ruang rapat dan baliho.

Jika pemerintah sungguh berkomitmen menjadikan infrastruktur sebagai sarana pemerataan, maka pembangunan jalan Loloda harus dimulai dari keadilan, bukan kepentingan. Karena jalan yang sejati bukan sekadar menghubungkan tempat tetapi menghubungkan rasa keadilan antarwarga di seluruh pelosok Maluku Utara.

Dipenghujung tulisan ini, sebagai putra loloda meminta dengan tegas kepada 9 (sembilan) anggota DPRD Dapil Halut-Morotai, Pemerintah Daerah dan Provinsi berhenti menjadikan wilayah pinggiran seperti Loloda sebagai bahan pidato. Yang dibutuhkan bukan lagi janji dan opini. tapi komitmen anggaran dan transparansi progres. Pembangunan jalan Loloda harus ditempatkan sebagai agenda keadilan wilayah, bukan sekadar proyek fisik.*

Komentar

Berita Terkait

EFISIENSI ATAU AMBISI? MATINYA LOGIKA PRABOWO ATAS PENDIDIKAN YANG DI LECEHKAN
RAPOT HITAM BUAT BUPATI HALMAHERA SELATAN (Logika Sesat Penghapus Beasiswa kuliah untuk Mahasiswa halsel di luar daerah)
HARITA GROUP DAN PARADOKS KEMAKMURAN DI HALMAHERA SELATAN ; Membaca Industrialisasi Nikel Melalui Perspektif Risk Society Ulrich Beck
Konstitusi Menghadap Laut, Kebijakan Milik Daratan
CANTIK ITU PALSU
Mengapa Perempuan Perlu Berpengetahuan?
Hedging ala Prabowo: Perubahan Peta Impor Minyak Nasional?
BBM Naik Lagi, Reformasi Energi Jangan Ditunda
Berita ini 130 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WIT

EFISIENSI ATAU AMBISI? MATINYA LOGIKA PRABOWO ATAS PENDIDIKAN YANG DI LECEHKAN

Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:49 WIT

RAPOT HITAM BUAT BUPATI HALMAHERA SELATAN (Logika Sesat Penghapus Beasiswa kuliah untuk Mahasiswa halsel di luar daerah)

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:52 WIT

HARITA GROUP DAN PARADOKS KEMAKMURAN DI HALMAHERA SELATAN ; Membaca Industrialisasi Nikel Melalui Perspektif Risk Society Ulrich Beck

Rabu, 29 Juli 2026 - 12:00 WIT

Konstitusi Menghadap Laut, Kebijakan Milik Daratan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 04:44 WIT

CANTIK ITU PALSU

Jumat, 3 Juli 2026 - 07:11 WIT

Mengapa Perempuan Perlu Berpengetahuan?

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:46 WIT

Hedging ala Prabowo: Perubahan Peta Impor Minyak Nasional?

Senin, 15 Juni 2026 - 10:15 WIT

BBM Naik Lagi, Reformasi Energi Jangan Ditunda

Berita Terbaru