Oleh : Nofri Madiani — Kader HMI Cabang Bacan
Cantik adalah keinginan wanita untuk terlihat cantik, indah, dan seksi. Namun Kecantikan menghadirkan ambiguitas, memaksa para wanita melepaskan kebebasan esensinya sebagai mahluk rasional, demi suatu penilaian estetika yang mengandung nilai kecantikan mengikuti standar sosial.
Menurut, Mery Wollstonecraft, wanita dan pria adalah sama, setara, dan kecantikan bagi Mery adalah tongkat kekuasaan Seorang wanita. Wanita terlihat cantik dan seksi, agar ditemukan frasa keseimbangan esensi kecantikan akan dirinya, wanita tidak harus menjadikan dirinya sebatas objek yang “dikaji“, namun ia harus menjadi subjek untuk “mengkaji“.
Menurut Eka Kurniawan dalam karyanya “Cantik Itu Luka”, cantik bukan anugrah alami, melainkan kontruksi sosial yang berubah menjadi kutukan ketika sistem patriarki, kolonial, dan kekuasaan menjadikannya alat penguasa, objek dan penderitaan. Eka menegaskan, kecantikan itu adalah kutukan, ia akan membawa luka, air mata dan penderitaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan pesatnya daya konsumerisme, wanita berkeinginan untuk terlihat cantik, mengikuti brent, tren viral, dikontrol lewat teknogi atau media sosial dan ini bukan sebagai kebutuhan, melainkan implementasi keinginan, gengsi, untuk memiliki bren-bren cosmetic terbaru. Cantik masa kini terbelenggu oleh Cosmetic, Scinkcer, Oplas, Suntik Putih, dibalik itu semua ada efek samping yang merusak.
Perlu disadari kecantikan itu dibentuk oleh konstruksi sosial dan kecantikan fisik bukanlah jaminan kebahagiaan, melainkan magnet yang menarik nafsu, penindasan, kekerasan dan ekploitasi, dan kecantikan itu dibentuk oleh budaya patriarki yang menilai bahwa cantik itu begini dan begitu.
Per hari ini sekian banyak wanita telah terjatuh dalam paradigma yang kabur akan memaknai aslinya “kecantikan“, Meraka menganggap cantik adalah sebatas kecantikan fisik. Yang seharusnya dilihat adalah kecantikan dari dalam, kapasitas intelektual otaknya. Namun mereka meninggalkan esensi itu, kebebasan berfikir, tidak bersaing dalam Ruang publik, tidak lagi mengejar prestasi, mereka terbelenggu oleh kepalsuan, kebodohan, dan hidup atas penilaian semata. Bagaimna mendudukan aslinya kecantikan itu?
Menurut Nawal El Sadawi, kecantikan
sejati bukanlah rupa lahiriah, melainkan keaslian diri, kreatif, kebebasan, dan kejujuran. Nawal El Sadawi menegaskan, Kecantikan sejati ada pada wanita yang menjadi dirinya sendiri, dan tidak membentuk kepribadian lain hanya untuk menyenangkan orang lain.
Kecantikan hadir dari dalam dikonstruk membentuk nilain keaslian, tidak mengikuti standar sosial dan tidak hidup dalam kepalsuan.(*)








