tajukmalut.com | Halmahera Tengah — Rentetan kasus kekerasan bersenjata yang terjadi di wilayah hutan perbatasan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur kembali menuai sorotan. Pengurus Pusat FORMAPAS MALUT menilai situasi keamanan di kawasan tersebut belum tertangani secara maksimal.
Ketua Umum FORMAPAS Malut, Riswan Sanun, mengungkapkan bahwa keberadaan kelompok orang tak dikenal (OTK) yang diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat, khususnya di wilayah pedalaman.
Menurutnya, langkah pengamanan yang dilakukan oleh Polda Maluku Utara dinilai belum menyentuh titik-titik rawan yang selama ini menjadi lokasi aktivitas kelompok tersebut. Ia menilai pendekatan yang dilakukan masih terbatas dan belum mampu menjangkau wilayah hutan secara menyeluruh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Penanganan keamanan harus lebih terfokus dan menyentuh akar persoalan. Perlu ada upaya serius untuk mengungkap pelaku serta jaringan di balik aksi-aksi kekerasan tersebut,” ujar Riswan.
Ia menambahkan, kejelasan terkait identitas pelaku, motif, hingga kemungkinan adanya pihak yang melindungi menjadi hal penting yang harus segera diungkap agar tidak menimbulkan ketakutan berkepanjangan di tengah masyarakat.
FORMAPAS Malut juga mendorong aparat kepolisian untuk meningkatkan langkah operasional melalui pendekatan terpadu, termasuk memperluas jangkauan pengamanan hingga ke wilayah-wilayah terpencil yang selama ini minim pengawasan.
Selain itu, organisasi tersebut menekankan pentingnya transparansi dalam setiap proses penegakan hukum agar kepercayaan publik tetap terjaga. Keamanan, kata dia, harus dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat, baik yang berada di kawasan pesisir maupun pedalaman.
“Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan masyarakat. Rasa aman tidak boleh menjadi sesuatu yang terbatas hanya di wilayah tertentu,” tegasnya.(red)









