Kerusakan Rumput Laut di Fayaul: Akademisi Soroti Pola Sistemik dan Ketidakadilan di Halmahera Timur

Senin, 17 November 2025 - 13:44 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

tajukmalut.com | Halmahera Timur, 17 November 2025 – Keluhan petani rumput laut di Desa Fayaul, Kecamatan Wasile Selatan, terkait perubahan warna laut dan kerusakan budidaya akibat aktivitas industri di sekitar wilayah mereka, mendapat perhatian serius dari akademisi. Asmar Hi. Daud, seorang ahli yang concern terhadap keberlanjutan sosial-ekologis di Halmahera Timur, menyampaikan pernyataan sikap dan analisis akademisnya terkait permasalahan ini.

Menurut Asmar, kerusakan rumput laut yang ditandai dengan menghitam, membusuk, dan gagal panen, bukanlah kasus tunggal, melainkan bagian dari pola sistemik yang lebih luas. Tekanan ekologis ini juga terjadi di Subaim, Wasile, di mana aktivitas pertambangan dan jalan hauling menyebabkan sedimentasi berat yang menurunkan kualitas tanah dan air. Aktivitas jeti dan bongkar muat material di wilayah hilir semakin memperparah situasi dengan memicu kekeruhan dan perubahan warna laut.

Dua konteks ini merupakan satu kesatuan sistem sosial-ekologis yang tengah mengalami tekanan kuat akibat industrialisasi yang tidak dikawal dengan tata kelola lingkungan yang memadai,” ujar Asmar dalam pernyataannya.

ADVERTISEMENT

alt="ads" />

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dampak ekologis ini, lanjut Asmar, berkorelasi langsung dengan runtuhnya mata pencaharian masyarakat pesisir. Perubahan kualitas air laut sangat sensitif terhadap komoditas seperti rumput laut, sehingga kerusakan lingkungan di Fayaul mengancam sumber penghidupan utama masyarakat. Pola kerentanan serupa juga terjadi di Wasile, di mana masyarakat kehilangan produktivitas perikanan dan pertanian akibat sedimentasi tambang.

Jika tidak ditangani, kedua wilayah ini akan mengalami degradasi berantai, yakni hilangnya sumber daya alam, menurunnya pendapatan, meningkatnya kerentanan sosial dan kemiskinan,” tegasnya.

Asmar juga menyoroti adanya ketidakadilan distribusi manfaat, di mana kompensasi diberikan di desa tertentu tetapi tidak bagi Fayaul. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keadilan ekologis, mengingat desa yang paling dekat dengan dampak sering kali justru paling kurang mendapat perhatian.

Untuk menghentikan kerusakan yang makin meluas, Asmar memberikan tiga rekomendasi mendesak kepada pemerintah dan perusahaan:

1. Monitoring Ilmiah Independen: Dilakukan secara periodik terhadap kualitas air laut dan DAS Wasile, meliputi kekeruhan, sedimentasi, warna air, serta parameter kimia. Data ini harus terbuka bagi publik dan menjadi dasar kebijakan.
2. Audit Lingkungan & Audit Keadilan Ekologis: Audit harus menilai hubungan antara aktivitas industri dan dampaknya pada masyarakat, sekaligus mengkaji distribusi kompensasi agar tidak diskriminatif.
3. Pembentukan Forum Tata Kelola Adaptif: Forum yang melibatkan DLH, DKP, akademisi, perusahaan, dan masyarakat pesisir perlu dibentuk sebagai mekanisme penyelesaian konflik, perencanaan pemulihan lingkungan, dan perumusan kebijakan adaptif.

Asmar menekankan bahwa pesisir dan hulu harus dikelola sebagai satu sistem. Kerusakan di hulu Wasile tidak dapat dipisahkan dari kerusakan budidaya di Fayaul. Oleh karena itu, pemulihan tidak cukup dilakukan di pesisir saja; rehabilitasi DAS hulu, penegakan hukum lingkungan, dan pembenahan tata kelola industri merupakan satu paket solusi yang tidak dapat dipisahkan.

Saya mendorong pemerintah daerah, DPRD, dan perusahaan untuk membuka ruang dialog yang transparan serta memastikan bahwa masyarakat yang paling terdampak mendapatkan perlindungan, keadilan, dan pemulihan yang layak. Industri dapat berjalan, tetapi tidak boleh mengorbankan masa depan masyarakat pesisir yang hidup paling dekat dengan laut dan paling rentan terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya.

Komentar

Berita Terkait

SMIT Dukung Wacana Federal: Kesatuan Politik Tanpa Keadilan Ekonomi Adalah Ketimpangan
Ketua GMNI Halsel Munawir Mandar Besuk Korban Penikaman di Anggai, Apresiasi Gerak Cepat Polsek Obi
Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026, Pendapatan Daerah Haltim di Proyeksikan Rp147.137 Triliun
Ketua GMNI Halsel Munawir Mandar Desak Pemkab Halsel Tutup Fortune yang Diduga Jual Miras
BEM FIB UNKHAIR Gelar Manifesto FIB UNKHAIR 2026, Seni sebagai Instrumen Jalan Juang dan Jalan Pulang
Sambut HUT RI ke-81, DPC Gerindra Halsel Bagikan Sembako untuk Yatim Piatu dan Janda
Rumah Ibadah Diduga Diintimidasi di Labuha, SEKPHAS Desak Aparat Usut Tuntas
“SMP Alkhairaat Tobelo Raih Juara I Gerak Jalan Indah, Tampilkan Aksi Memukau”
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 00:22 WIT

SMIT Dukung Wacana Federal: Kesatuan Politik Tanpa Keadilan Ekonomi Adalah Ketimpangan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:35 WIT

Ketua GMNI Halsel Munawir Mandar Besuk Korban Penikaman di Anggai, Apresiasi Gerak Cepat Polsek Obi

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:05 WIT

Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026, Pendapatan Daerah Haltim di Proyeksikan Rp147.137 Triliun

Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:03 WIT

Ketua GMNI Halsel Munawir Mandar Desak Pemkab Halsel Tutup Fortune yang Diduga Jual Miras

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:04 WIT

Sambut HUT RI ke-81, DPC Gerindra Halsel Bagikan Sembako untuk Yatim Piatu dan Janda

Senin, 17 Agustus 2026 - 02:11 WIT

Rumah Ibadah Diduga Diintimidasi di Labuha, SEKPHAS Desak Aparat Usut Tuntas

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:48 WIT

“SMP Alkhairaat Tobelo Raih Juara I Gerak Jalan Indah, Tampilkan Aksi Memukau”

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:46 WIT

DUGAAN PREMANISME DAN INTIMIDASI DI DESA LABUHA, PERSOALAN TANAH WAKAF DIMINTA DITINDAKLANJUTI

Berita Terbaru

Opini

Dirgahayu RI, Merdeka dari Mafia Kerah Putih

Senin, 17 Agu 2026 - 13:30 WIT