tajukmalut.com | Halmahera Selatan -Kekhawatiran masyarakat atas keberadaan industri pertambangan di Pulau Obi kini semakin meningkat. Terbaru, warga Desa Kawasi mengecam keras tindakan PT Harita Group yang diduga menggunakan slag, atau limbah bekas pembuangan nikel, sebagai bahan material dalam pembangunan bak penampungan air minum yang rencananya akan dikonsumsi oleh warga setempat.
Slag merupakan limbah sisa dari proses peleburan bijih nikel, yang diketahui secara ilmiah masih mengandung residu bahan kimia beracun. Jika digunakan secara tidak tepat, residu ini dapat berpotensi mencemari air dan membahayakan kesehatan manusia.“Ini perlahan-lahan bukan hanya mengancam kesehatan, tapi juga bisa membunuh warga kami. Kami mengecam keras tindakan yang sangat ceroboh dan tidak manusiawi ini,” ujar salah satu warga Desa Kawasi yang meminta namanya disamarkan demi keamanan.
Warga Obi, khususnya keluarga-keluarga yang berada di Desa Kawasi, kini menaruh harapan besar kepada pemerintah pusat untuk turun tangan. Mereka mendesak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar segera melakukan investigasi dan memberikan sanksi tegas terhadap PT Harita Group.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami minta ESDM jangan diam. Ini bukan hanya soal pelanggaran teknis, tapi soal nyawa. Air adalah kebutuhan utama. Jika tempat penampungannya saja dibuat dari limbah beracun, lalu bagaimana kami bisa yakin air itu layak diminum?” tegas salah satu tokoh pemuda Obi.
Menurut studi dari International Journal of Environmental Research and Public Health (2021), slag dari peleburan nikel dapat mengandung unsur logam berat seperti kromium (Cr), nikel (Ni), dan kadmium (Cd) yang bersifat karsinogenik jika terpapar dalam jangka panjang. Paparan logam berat ini dapat menyebabkan kerusakan hati, ginjal, bahkan kanker.
Lembaga swadaya masyarakat lingkungan seperti WALHI dan Greenpeace Indonesia sebelumnya juga menekankan bahwa penggunaan limbah industri dalam proyek publik seperti sumber air bersih harus melalui uji kelayakan dan pemantauan ketat.
Warga Siap Ambil Langkah Hukum dan Aksi Jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan tegas dari pemerintah, warga mengancam akan melakukan aksi besar dan membawa persoalan ini ke jalur hukum.
“Kami tidak ingin menjadi korban atas nama investasi. Jika tidak ada tindakan, kami siap turun ke jalan. Jangan biarkan rakyat menjadi tumbal tambang,” ujar perwakilan masyarakat Obi.Hingga berita ini dirilis, pihak PT Harita Group belum memberikan keterangan resmi terkait penggunaan material slag dalam proyek tersebut.(red)









