Dari Api Sejarah ke Gerak Nyata Masa Kini

Minggu, 9 November 2025 - 07:49 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fadli Abd. Kadir

Dalam setiap lembar sejarah bangsa Indonesia, pemuda selalu menjadi percikan api yang menyalakan bara perubahan. Dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 hingga pergerakan mahasiswa di berbagai era, semangat pemuda telah menjadi motor penggerak kemerdekaan, pembangunan, dan perubahan sosial. Namun di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan zaman digital, semangat itu kerap kali memudar, tergantikan oleh sikap apatis dan kehilangan arah perjuangan.

Sejarah mencatat, para pemuda di masa perjuangan tidak hanya berteriak lantang, tetapi juga bertindak nyata. Di awal abad ke-20, Budi Utomo lahir dari kegelisahan para pelajar muda yang ingin melihat bangsanya berdaya. Lalu muncul Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, dan berbagai organisasi kedaerahan lainnya yang akhirnya melebur dalam satu ikrar keramat: “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia.” Ikrar itu bukan sekadar kalimat simbolik, tetapi representasi tekad para pemuda untuk bersatu demi masa depan bangsa.

ADVERTISEMENT

alt="ads" />

SCROLL TO RESUME CONTENT

Api semangat itulah yang kemudian membakar generasi 1945 untuk berani memproklamasikan kemerdekaan, dan generasi 1966 untuk menegakkan idealisme kebangsaan. Semua berakar pada keyakinan bahwa pemuda bukan sekadar penerus bangsa, melainkan pelaku utama sejarah.

Kini, semangat itu perlu kita hidupkan kembali dalam bentuk yang lebih relevan. Tantangan hari ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan penjajahan pikiran—dari budaya instan, ketergantungan teknologi, hingga hilangnya empati sosial. Di tengah kondisi itu, pemuda harus menjadi pelopor dalam menghidupkan kembali nilai gotong royong, kerja nyata, dan kepedulian sosial di lingkungan masing-masing.

Gerakan pemuda masa kini harus lebih berorientasi pada aksi dan inovasi.mPemuda di kampung, di kota, maupun di dunia digital harus mampu menciptakan kegiatan positif yang memperkuat kebersamaan. Entah lewat turnamen olahraga, kegiatan literasi, kerja bakti, atau gerakan sosial lainnya—semua menjadi bentuk nyata bahwa semangat pemuda masih hidup, hanya menunggu diarahkan.

Pemuda yang bersemangat bukanlah mereka yang paling lantang bicara, tetapi mereka yang paling tulus bekerja. Di Maluku Utara, semangat seperti ini telah tumbuh di berbagai pelosok kampung, di mana para pemuda menggagas kegiatan-kegiatan sosial dan olahraga untuk menumbuhkan persatuan. Langkah sederhana, namun bermakna besar bagi masa depan daerah.

Kini saatnya kita, para pemuda, menyalakan kembali obor semangat itu. Karena bangsa yang besar tidak lahir dari banyaknya kekayaan alam, melainkan dari jiwa-jiwa muda yang tak pernah lelah mencintai tanah airnya.

Sebagaimana para pemuda 1928 yang berikrar dengan semangat kebangsaan, maka pemuda hari ini harus berikrar dengan semangat pembangunan—menyatukan hati, tenaga, dan gagasan demi Indonesia yang lebih maju, khususnya Maluku Utara yang kita cintai.

Jangan pernah biarkan api semangat itu padam, sebab di tangan pemuda, masa depan bangsa ditentukan.”

Komentar

Berita Terkait

EFISIENSI ATAU AMBISI? MATINYA LOGIKA PRABOWO ATAS PENDIDIKAN YANG DI LECEHKAN
RAPOT HITAM BUAT BUPATI HALMAHERA SELATAN (Logika Sesat Penghapus Beasiswa kuliah untuk Mahasiswa halsel di luar daerah)
HARITA GROUP DAN PARADOKS KEMAKMURAN DI HALMAHERA SELATAN ; Membaca Industrialisasi Nikel Melalui Perspektif Risk Society Ulrich Beck
Konstitusi Menghadap Laut, Kebijakan Milik Daratan
CANTIK ITU PALSU
Mengapa Perempuan Perlu Berpengetahuan?
Hedging ala Prabowo: Perubahan Peta Impor Minyak Nasional?
BBM Naik Lagi, Reformasi Energi Jangan Ditunda
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WIT

EFISIENSI ATAU AMBISI? MATINYA LOGIKA PRABOWO ATAS PENDIDIKAN YANG DI LECEHKAN

Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:49 WIT

RAPOT HITAM BUAT BUPATI HALMAHERA SELATAN (Logika Sesat Penghapus Beasiswa kuliah untuk Mahasiswa halsel di luar daerah)

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:52 WIT

HARITA GROUP DAN PARADOKS KEMAKMURAN DI HALMAHERA SELATAN ; Membaca Industrialisasi Nikel Melalui Perspektif Risk Society Ulrich Beck

Rabu, 29 Juli 2026 - 12:00 WIT

Konstitusi Menghadap Laut, Kebijakan Milik Daratan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 04:44 WIT

CANTIK ITU PALSU

Jumat, 3 Juli 2026 - 07:11 WIT

Mengapa Perempuan Perlu Berpengetahuan?

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:46 WIT

Hedging ala Prabowo: Perubahan Peta Impor Minyak Nasional?

Senin, 15 Juni 2026 - 10:15 WIT

BBM Naik Lagi, Reformasi Energi Jangan Ditunda

Berita Terbaru