Pemutaran Film “Ngomi o Obi” Tuai Kritik: Mahasiswa Pertanyakan Netralitas TV Tempo dan Akuntabilitas CSR Harita Nickel

Senin, 21 Juli 2025 - 02:35 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

tajukmalut.com | Ternate – Pemutaran film dokumenter berjudul Ngomi o Obi (Kami yang di Obi) oleh TV Tempo pada Senin, 15 Juli 2025, di Aula Nuku Lantai 4 Kampus Universitas Khairun (Unkhair) Ternate menuai sorotan tajam dari kalangan mahasiswa dan masyarakat Pulau Obi. Film yang menyoroti operasi pertambangan PT. Harita Nickel dan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) tersebut dinilai menyajikan narasi sepihak yang condong membela perusahaan tambang.

Acara yang dihadiri langsung oleh Rektor Unkhair beserta jajarannya, perwakilan Gubernur dari Dinas Lingkungan Hidup Maluku Utara, CEO TV Tempo, serta mahasiswa lintas fakultas ini dilanjutkan dengan sesi diskusi publik. Beberapa narasumber yang dihadirkan antara lain akademisi Unkhair, perwakilan nelayan dan petani Obi, serta tokoh perempuan yang disebut sebagai “Menteri Pertanian” di tingkat lokal karena kiprahnya sebagai petani sukses di Obi.

Namun, suasana forum menjadi tegang ketika Rahman Udin, Ketua Umum Gerakan Persatuan Mahasiswa Obi Maluku Utara (GPMO-Malut), menyampaikan pertanyaan kritis kepada CEO TV Tempo. Ia mempertanyakan motif dan tujuan dari produksi film tersebut yang dinilai terlalu normatif dan kurang menggambarkan realitas problematik yang dialami masyarakat lingkar tambang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat saya bertanya, CEO hanya menjawab bahwa film ini sekadar memotret keberadaan Harita di Obi. Itu jawaban yang terlalu datar,” ungkap Rahman.

Kekecewaan semakin memuncak ketika moderator diskusi tidak memberikan ruang lanjutan untuk klarifikasi dengan dalih keterbatasan waktu. Forum diskusi pun dinilai berjalan tidak adil karena mengesampingkan suara-suara kritis dari masyarakat Obi.

Rahman juga menyoroti pernyataan salah satu pemateri, seorang petani perempuan yang menggambarkan bahwa CSR PT. Harita Nickel telah tersalurkan dengan baik dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat desa. Pernyataan tersebut ditanggapi dengan skeptis oleh mahasiswa Obi yang merasa kenyataan di lapangan jauh dari klaim tersebut.

Ini bukan soal beda pandangan. Ini soal realitas. Masyarakat Obi sudah lama hidup dalam dampak lingkungan yang berat akibat tambang, tapi CSR yang dijanjikan tak kunjung memberi perubahan berarti,” tegasnya.

Dalam forum itu, Rahman juga menyesalkan sikap Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara yang dinilai tidak serius mengawal tanggung jawab sosial perusahaan. Ia menyoroti peran Bupati Halmahera Selatan yang secara struktural adalah Penasehat CSR, namun belum menunjukkan inisiatif kuat dalam mengevaluasi efektivitas program yang dijalankan oleh PT. Harita Nickel.

Sudah kami surati Dinas ESDM Maluku Utara pada 10 Juli 2024 untuk meminta laporan resmi CSR seluruh perusahaan tambang di Obi. Tapi sampai sekarang, kami hanya dapat jawaban normatif tanpa dokumen,” katanya.

Mahasiswa juga mempertanyakan potensi konflik kepentingan antara TV Tempo dengan perusahaan tambang, mengingat film yang ditayangkan dinilai terlalu berpihak kepada perusahaan.

Dalam pernyataan penutupnya, Rahman mewakili GPMO-Malut mendesak agar Presiden RI, Menteri ESDM, dan lembaga negara lainnya turun langsung ke Pulau Obi untuk memastikan keseriusan pelaksanaan CSR dan dampaknya bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa masyarakat Obi tidak menolak keberadaan industri, namun menuntut keadilan, transparansi, dan keberpihakan yang berimbang dalam kebijakan sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Kalau perusahaan serius ingin membantu masyarakat, tunjukkan dengan data terbuka, program tepat sasaran, dan evaluasi publik. Jangan jadikan CSR sebagai formalitas untuk membungkam kritik,” pungkas Rahman.(red)

Komentar

Berita Terkait

BBM Naik Lagi, Reformasi Energi Jangan Ditunda
MENAKAR OPINI WAJAR TANPA PENGECUALIAN (WTP ) DAN CAPAIAN MAKRO EKONOMI HALMAHERA SELATAN
Menata Wajah Halmahera Timur
Ilusi ‘Nanti’: Menyembelih Ego Sebelum Kematian Tiba
Menerangi Galela: MTs Alkhairaat dan Perjuangan Abadi Pendidikan Islam di Halmahera Utara
Orang Hibualamo: Adat dan Keadilan
Dari Kelas ke Karakter; Tanggung Jawab Moral Guru dalam Semangat Hardiknas
Pelajar di Meja Bilyar: Kegagalan Ruang Kelas atau Krisis Moralitas?
Berita ini 113 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 10:15 WIT

BBM Naik Lagi, Reformasi Energi Jangan Ditunda

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:25 WIT

MENAKAR OPINI WAJAR TANPA PENGECUALIAN (WTP ) DAN CAPAIAN MAKRO EKONOMI HALMAHERA SELATAN

Senin, 8 Juni 2026 - 03:22 WIT

Menata Wajah Halmahera Timur

Selasa, 26 Mei 2026 - 08:48 WIT

Ilusi ‘Nanti’: Menyembelih Ego Sebelum Kematian Tiba

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:24 WIT

Menerangi Galela: MTs Alkhairaat dan Perjuangan Abadi Pendidikan Islam di Halmahera Utara

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:13 WIT

Orang Hibualamo: Adat dan Keadilan

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:08 WIT

Dari Kelas ke Karakter; Tanggung Jawab Moral Guru dalam Semangat Hardiknas

Rabu, 29 April 2026 - 14:46 WIT

Pelajar di Meja Bilyar: Kegagalan Ruang Kelas atau Krisis Moralitas?

Berita Terbaru