HOMPIMPA: Tradisi dan Konsep Penyerahan kepada Tuhan

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:15 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ibnu Furqan

Pernahkah anda menyaksikan atau bahkan memainkan sebuah permainan klasik ‘Hompimpa’? Di belahan negeri Indonesia, permainan ini menjadi bagian dari denyut kehidupan anak-anak yang tumbuh di desa-desa dan di ruang-ruang sosial masyarakat. Permainan ini dimainkan oleh 3 orang atau lebih, biasanya dengan menggoyang dan memutar tangan di tengah lingkaran secara bersamaan dengan bunyi yang khas _“Hompimpa Alaium Gambreng”_. Di akhir permainan, tangan akan terbuka dengan dua kondisi yang berbeda, menghadap ke atas atau ke bawah. Barulah ditentukan, siapa yang menang dan siapa yang kalah dari perbedaan posisi tangan.

Membaca sepintas cara dan nostalgia permainan ‘Hompimpa’, pembaca tentu bertanya, apa yang akan dibahas selanjutnya dari tulisan ini? Sadar atau tidak, permainan yang familiar itu, sejatinya menyimpan nilai spritualitas yang khas dan makna terdalam jika ditelaah secara ontologis.

Jauh sebelum kitab-kitab agama di Indonesia merumuskan konsep penyerahan diri atau ‘Tawakkal’, anak-anak Indonesia telah mempraktikannya dalam sebuah ritual kecil yang menyimpan makna kosmologis yang luar biasa. ‘Hompimpa Alaium Gambreng’, bukan sekadar mantra untuk menentukan kemenangan dalam permainan, tetapi irama ini justru menggetarkan jiwa secara diam-diam.

ADVERTISEMENT

alt="ads" />

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akar Sanskerta menyebutkan: hidup dan mati hanya milik Tuhan, ‘Hom’ bermakna Tuhan, sedangkan ‘Pimpa’ bermakna ketiadaan. ‘Alium’ pada yang lain dari diri, dan ‘Gambreng’, adalah kepasrahan totalitas. Maka, ketika anak-anak mengangkat tangan mereka, membalikkan dan menerima hasil permainan, sesungguhnya mereka sedang menunjukkan makna penerimaan dengan kerelaan yang tidak lagi dinegosiasikan.

Makna ini persis sama dengan _”Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji’ūn“_ (sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali). Ayat ini menunjukan makna paling hakiki dari konsep penyerahan. Itu artinya, bukan suatu kebetulan, bahwa struktur makna ‘Hompimpa’ bergerak dalam garis lurus yang sama, bahwa seseorang harus benar-benar mengakui kepemilikan mutlak Ilahi, dan penerimaan atas apapun yang datang dari-Nya.

Kini ‘Hompimpa’ adalah rite of passage yang terjadi secara berulang setiap hari, ini adalah simbol kebudayaan orang Indonesia, dan mesti dipahami bahwa simbol bukanlah praktik tanpa makna, tapi penerimaan yang membebaskan. Dari sini, tradisi menunjukan kecerdasannya, tanpa memerlukan dogma dan seluruh kerumitannya. Pada akhirnya kita akan mengerti bahwa ‘Ridha’ (kerelaan) adalah nilai paling tinggi dalam hidup bukan sekadar teks di atas lembaran kertas.

Hompimpa’ mengajarkan kepada kita, bahwa manusia bukan pemilik, melainkan titipan yang sedang bermain dengan Tuhan. Dan Tuhanlah satu-satunya yang menentukan hasil akhir dari permainan itu.(*)

Komentar

Berita Terkait

DUGAAN PREMANISME DAN INTIMIDASI DI DESA LABUHA, PERSOALAN TANAH WAKAF DIMINTA DITINDAKLANJUTI
BBM PLN Saketa Diduga Dicuri, Pemuda Saketa Tantang Polres Halsel dan Inspektorat PLN Buka-bukaan
Pekan Ini TPP Tahap II Terbayar, Bupati Ubaid Sebut Hadia HUT RI
532 Hektar Lahan Cetak Sawah Haltim, Tersebar di Tiga Kecamatan
PATUT DIPERTANYAKAN KINERJA POLRES HALTENG TERKAIT HASIL VISUM ANGGOTA SBGN
HMI Desak PLN Copot Kepala ULP Saketa, Polda Diminta Ambil Alih
Pemuda Saketa Desak Copot dan Proses Kepala PLN Saketa
Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026: Fraksi Golkar Akan Bedah Kebijakan Fiskal Pemkab Halsel, Rustam Soroti DBH hingga Kenaikan PAD
Berita ini 59 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:46 WIT

DUGAAN PREMANISME DAN INTIMIDASI DI DESA LABUHA, PERSOALAN TANAH WAKAF DIMINTA DITINDAKLANJUTI

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:46 WIT

BBM PLN Saketa Diduga Dicuri, Pemuda Saketa Tantang Polres Halsel dan Inspektorat PLN Buka-bukaan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:24 WIT

532 Hektar Lahan Cetak Sawah Haltim, Tersebar di Tiga Kecamatan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 11:33 WIT

PATUT DIPERTANYAKAN KINERJA POLRES HALTENG TERKAIT HASIL VISUM ANGGOTA SBGN

Senin, 10 Agustus 2026 - 06:11 WIT

HMI Desak PLN Copot Kepala ULP Saketa, Polda Diminta Ambil Alih

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:34 WIT

Pemuda Saketa Desak Copot dan Proses Kepala PLN Saketa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:55 WIT

Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026: Fraksi Golkar Akan Bedah Kebijakan Fiskal Pemkab Halsel, Rustam Soroti DBH hingga Kenaikan PAD

Senin, 3 Agustus 2026 - 09:59 WIT

Potensi SDA Obi Diperas, Pembangunan Jalan Lingkar Malah Dianaktirikan Gubernur Sherly Tjoanda

Berita Terbaru