Ibnu Furqan
Pernahkah anda menyaksikan atau bahkan memainkan sebuah permainan klasik ‘Hompimpa’? Di belahan negeri Indonesia, permainan ini menjadi bagian dari denyut kehidupan anak-anak yang tumbuh di desa-desa dan di ruang-ruang sosial masyarakat. Permainan ini dimainkan oleh 3 orang atau lebih, biasanya dengan menggoyang dan memutar tangan di tengah lingkaran secara bersamaan dengan bunyi yang khas _“Hompimpa Alaium Gambreng”_. Di akhir permainan, tangan akan terbuka dengan dua kondisi yang berbeda, menghadap ke atas atau ke bawah. Barulah ditentukan, siapa yang menang dan siapa yang kalah dari perbedaan posisi tangan.
Membaca sepintas cara dan nostalgia permainan ‘Hompimpa’, pembaca tentu bertanya, apa yang akan dibahas selanjutnya dari tulisan ini? Sadar atau tidak, permainan yang familiar itu, sejatinya menyimpan nilai spritualitas yang khas dan makna terdalam jika ditelaah secara ontologis.
Jauh sebelum kitab-kitab agama di Indonesia merumuskan konsep penyerahan diri atau ‘Tawakkal’, anak-anak Indonesia telah mempraktikannya dalam sebuah ritual kecil yang menyimpan makna kosmologis yang luar biasa. ‘Hompimpa Alaium Gambreng’, bukan sekadar mantra untuk menentukan kemenangan dalam permainan, tetapi irama ini justru menggetarkan jiwa secara diam-diam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akar Sanskerta menyebutkan: hidup dan mati hanya milik Tuhan, ‘Hom’ bermakna Tuhan, sedangkan ‘Pimpa’ bermakna ketiadaan. ‘Alium’ pada yang lain dari diri, dan ‘Gambreng’, adalah kepasrahan totalitas. Maka, ketika anak-anak mengangkat tangan mereka, membalikkan dan menerima hasil permainan, sesungguhnya mereka sedang menunjukkan makna penerimaan dengan kerelaan yang tidak lagi dinegosiasikan.
Makna ini persis sama dengan _”Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji’ūn“_ (sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali). Ayat ini menunjukan makna paling hakiki dari konsep penyerahan. Itu artinya, bukan suatu kebetulan, bahwa struktur makna ‘Hompimpa’ bergerak dalam garis lurus yang sama, bahwa seseorang harus benar-benar mengakui kepemilikan mutlak Ilahi, dan penerimaan atas apapun yang datang dari-Nya.
Kini ‘Hompimpa’ adalah rite of passage yang terjadi secara berulang setiap hari, ini adalah simbol kebudayaan orang Indonesia, dan mesti dipahami bahwa simbol bukanlah praktik tanpa makna, tapi penerimaan yang membebaskan. Dari sini, tradisi menunjukan kecerdasannya, tanpa memerlukan dogma dan seluruh kerumitannya. Pada akhirnya kita akan mengerti bahwa ‘Ridha’ (kerelaan) adalah nilai paling tinggi dalam hidup bukan sekadar teks di atas lembaran kertas.
‘Hompimpa’ mengajarkan kepada kita, bahwa manusia bukan pemilik, melainkan titipan yang sedang bermain dengan Tuhan. Dan Tuhanlah satu-satunya yang menentukan hasil akhir dari permainan itu.(*)









