80 Tahun Merdeka: Merah Putih di Atas Tanah yang Dirampas

Minggu, 17 Agustus 2025 - 06:11 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Safrudin Taher
Direktur Riset dan Opini Anatomi Pertambangan Indonesia

Di negeri sendiri, rakyat sering diperlakukan sebagai tamu. Sawah, kebun, dan kampung warisan leluhur dirampas pelan-pelan oleh investor dan oligarki, dibungkus manis dengan kata “pembangunan.” Aparat yang mestinya melindungi rakyat justru jadi benteng kekuasaan modal.

Padahal sejak 1945, tujuan bernegara jelas: melindungi segenap bangsa. Namun kenyataan hari ini menunjukkan sebaliknya. UU dan kebijakan lebih banyak mempermudah korporasi menguasai tanah ketimbang melindungi rakyat kecil. Inilah wajah nyata dari state capture—negara yang ditangkap kepentingan elit.

Sepanjang 2024, terjadi hampir 300 konflik agraria di seluruh Indonesia, meningkat 21 persen dari tahun sebelumnya. Dalam sepuluh tahun terakhir, lebih dari 6 juta hektare tanah dipersoalkan, melibatkan hampir 2 juta keluarga. Masyarakat adat menjadi korban paling rentan, dengan jutaan hektare wilayah adat terdampak dan puluhan kasus kriminalisasi. Maluku Utara kini bahkan menjadi episentrum baru perampasan tanah di Halmahera.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Halmahera Tengah saja, 66 izin tambang menguasai sekitar 142.964,79 hektare; lebih dari 60% sudah beroperasi. Nama-nama seperti IWIP dan WBN mengapit Weda Utara–Weda Tengah. Di lapangan, pembebasan lahan berujung pengusiran, kompensasi tak adil, hingga tekanan aparat. Pada 19 Mei 2025, 11 warga adat Maba Sangaji dikriminalisasi karena menolak tambang di wilayah adat mereka. Amnesty menilai, penggunaan pasal justru jadi alat membungkam pembela ruang hidup. Di Pulau Gebe, tiga IUP menyesaki kebun-kebun warga; ulayat, pala, kelapa, cengkih, hingga rumpun sagu 30 hektare rusak. Ketika pangan dikorbankan, kedaulatan rakyat runtuh setapak demi setapak. Banjir Juli 2024 merendam desa-desa lingkar tambang di Halteng dan memutus akses ekonomi ribuan orang. Inilah ongkos sosial-ekologi dari konsesi yang menutup mata pada daya dukung ruang, (WALHI).

Apa yang kita saksikan sejatinya adalah praktik oligarki, sebagaimana digambarkan Jeffrey Winters, segelintir elit ekonomi-politik menggunakan negara untuk melindungi kekayaan mereka. Dalam konteks Maluku Utara, situasi ini menjelma sebagai shadow state yaitu kekuasaan informal yang mengatur izin tambang, menguasai birokrasi, dan membungkam perlawanan rakyat.

Menariknya, Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR, 15 Agustus 2025, menyatakan akan menertibkan 1.063 tambang ilegal yang merugikan negara hingga Rp300 triliun. “Berani-berani melawan pemerintah NKRI, ya kita hadapi,” tegasnya. Pemerintah bahkan mengklaim sudah menguasai kembali 3,1 juta hektare lahan sawit ilegal. Pernyataan ini memberi secercah harapan, namun sekaligus membuka pertanyaan: apakah keberanian negara juga akan menyentuh perusahaan tambang dan perkebunan besar yang selama ini justru dilindungi oleh jaringan elit? Apakah oligarki yang sudah mengakar akan sungguh-sungguh dilawan, atau justru dinegosiasikan kembali dengan baju baru?

Bung Karno pernah berpesan: “Tanah untuk rakyat adalah syarat mutlak kemerdekaan sejati.” Delapan puluh tahun merdeka, pesan itu terasa semakin relevan. Karena tanah bukan sekadar lahan, tapi kehidupan. Dan kehidupan tak bisa ditukar dengan janji palsu pembangunan.

Maka, saat kita mengibarkan Merah Putih, jangan jadikan ia sekadar hiasan seremonial. Kibarkan ia sebagai tanda perlawanan: kemerdekaan sejati hanya ada jika tanah tetap berada di tangan rakyat.*

Komentar

Berita Terkait

HMI CABANG BACAN DESAK DISNAKERTRANS BERSIKAP TRANSPARAN HASIL PELAKSANAAN SARUMA JOB FAIR 2026
Sahril Thahir Gaspol Konsolidasi Gerindra Morotai, Targetkan Struktur Partai Tuntas hingga Desa
Diduga Jual BBM Subsidi Ilegal dan Langgar Aturan Gaji, PT Babang Raya di Halmahera Selatan, FORUM AKTIVIS INDONESIA (FAI) akan melaporkan ke BPH migas dan Kementerian Ketenangakerjaan 
Tagihan Limbah B3 PT IWIP Diselidiki Polisi, Dugaan Manipulasi Dokumen Mengemuka
BWS Maluku Utara Disorot, Dugaan Pembiaran Pengalihan Alur Sungai Kobe oleh PT IWIP Tuai Pertanyaan
Piutang DBH Rp278 Miliar Belum Tuntas, Rustam Ode Nuru: Utang Pemprov Jadi Penghambat Ketahanan Fiskal Halmahera Selatan
Ketua DPD Gerindra Malut Suntik Semangat Kader di Halsel, Pemuda Tani: Gerindra Harus Menang Bersama Rakyat pada 2029
Gerindra Malut Tancap Gas, Sahril Thahir Targetkan Struktur Partai Tuntas Hingga 249 Desa di Halsel
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 07:18 WIT

HMI CABANG BACAN DESAK DISNAKERTRANS BERSIKAP TRANSPARAN HASIL PELAKSANAAN SARUMA JOB FAIR 2026

Kamis, 2 Juli 2026 - 14:46 WIT

Sahril Thahir Gaspol Konsolidasi Gerindra Morotai, Targetkan Struktur Partai Tuntas hingga Desa

Senin, 29 Juni 2026 - 14:15 WIT

Tagihan Limbah B3 PT IWIP Diselidiki Polisi, Dugaan Manipulasi Dokumen Mengemuka

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:41 WIT

BWS Maluku Utara Disorot, Dugaan Pembiaran Pengalihan Alur Sungai Kobe oleh PT IWIP Tuai Pertanyaan

Kamis, 25 Juni 2026 - 11:47 WIT

Piutang DBH Rp278 Miliar Belum Tuntas, Rustam Ode Nuru: Utang Pemprov Jadi Penghambat Ketahanan Fiskal Halmahera Selatan

Kamis, 25 Juni 2026 - 01:24 WIT

Ketua DPD Gerindra Malut Suntik Semangat Kader di Halsel, Pemuda Tani: Gerindra Harus Menang Bersama Rakyat pada 2029

Kamis, 25 Juni 2026 - 00:31 WIT

Gerindra Malut Tancap Gas, Sahril Thahir Targetkan Struktur Partai Tuntas Hingga 249 Desa di Halsel

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:45 WIT

Haryadi Ahmad Pimpin PBSI Malut, Usung Misi Besar Cetak Atlet Berprestasi Nasional

Berita Terbaru

Opini

Mengapa Perempuan Perlu Berpengetahuan?

Jumat, 3 Jul 2026 - 07:11 WIT

Opini

Hedging ala Prabowo: Perubahan Peta Impor Minyak Nasional?

Selasa, 30 Jun 2026 - 10:46 WIT