Itulah kisah menakjubkan yang dibawa pulang oleh Rusydan Arby, penulis asal Ternate, dalam buku terbarunya “Jejak Maluku di Jantung Manhattan: Sebuah Perjalanan Mencari Asal-usul Kota Terbesar di Dunia.”
Buku setebal 213 halaman yang diterbitkan Bukunesia ini bukan sekadar buku sejarah. Ini adalah catatan perjalanan, sebuah pencarian pribadi yang membawa pembaca dari aroma pala di Banda hingga gemerlap gedung pencakar langit di New York.
Dari Kamar Kost di Yogyakarta Hingga ke Jalanan Manhattan
Semuanya berawal dari sebuah buku di sebuah Kamar kost Kecil di Yogyakarta.
Saat itu, Rusydan yang masih berstatus mahasiswa membaca Pulau Run karya Giles Milton. Di sana ia menemukan fakta yang membuatnya terpaku: pada tahun 1667, dunia pernah menyaksikan barter paling timpang sekaligus paling berpengaruh dalam sejarah.

Dalam Perjanjian Breda, Inggris rela menyerahkan Pulau Run — pulau mungil penghasil pala terbaik di dunia — kepada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan sebuah pulau rawa yang saat itu dianggap tidak berharga bernama Manhattan kepada Inggris.
Sebuah pulau rempah di Maluku ditukar dengan sebuah pulau yang kini menjadi pusat keuangan, budaya, dan kekuasaan dunia.
“Bagaimana mungkin sebuah wilayah sekecil Run di Maluku pernah berada di meja perundingan yang sama dengan Manhattan?” Pertanyaan itulah yang terus menghantui Rusydan.
Rasa penasaran itu akhirnya membawanya terbang melintasi benua. Berdiri langsung di tengah hiruk pikuk Manhattan, di antara Yellow Cab dan Times Square, ia justru mencari aroma Maluku.
Maluku Bukan Pinggiran Sejarah
Bagi Rusydan, buku ini adalah upaya mengembalikan Maluku ke peta sejarah dunia.
Selama ini kita diajarkan bahwa sejarah dunia berpusat di Eropa dan Amerika. Padahal, jauh sebelum itu, kapal-kapal dari seluruh penjuru dunia berlayar ribuan mil, berperang, dan berkhianat hanya untuk mendapatkan pala dan fuli dari Kepulauan Banda.
Melalui pendekatan sejarah populer yang renyah dan naratif, Rusydan tidak menggurui pembaca dengan tahun dan nama. Ia mengajak kita berjalan bersamanya — membayangkan betapa berharganya Maluku, hingga dua imperium besar dunia rela menukarnya dengan sebuah kota.
“Menulis sejarah bukan sekadar merekam masa lalu. Saya ingin menunjukkan bahwa Maluku memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah dunia,” ujar Rusydan.
Yang membuat karya ini semakin istimewa, ia ditulis di sela-sela kesibukan akademik yang padat. Saat ini, Rusydan tengah menempuh program doktoral PhD Geography and Environment di The University of Alabama, Amerika Serikat. Selama hampir dua tahun, di antara tumpukan jurnal dan disertasi, ia merajut kembali benang merah antara Banda dan Manhattan.
Kini, melalui Jejak Maluku di Jantung Manhattan, Rusydan berhasil membuktikan satu hal: untuk memahami Manhattan, kita harus terlebih dahulu memahami Maluku. Dan untuk bangga menjadi orang Maluku, kita harus tahu bahwa tanah kita pernah menentukan arah sejarah dunia.
Buku ini sudah tersedia dan siap mengajak Anda melihat New York dengan cara yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya.








