_Oleh: ibnu Furqan_
Esok 27 Mei 2026, saya diminta untuk menyampaikan khutbah Idhul Adha 1447 H/2026 M, di Masjid Jami’, salah satu masjid yang berada di Kecamatan Tobelo, Halmahera Utara. Dalam beberapa keadaan saya mempelajari satu indikator yang membuat manusia mengalami keterbelakangan mental. Ya Prokrastinasi, sebelumnya saya juga sudah menulis kiat-kiat dalam menghadapi gejala ini. Ada musuh paling nyata dalam kehidupan manusia, yaitu kebiasaan menunda suatu kebaikan dengan kata ‘Nanti’. Sejak itulah, maka sebagai seorang penulis saya ingin membahas perkara ini dalam khutbah Idhul Adha pada 27 Mei besok, sebagai kajian mutakhir yang barangkali sebelumnya sudah pernah di bahas, tapi nampaknya belum terasa dalam kehidupan banyak orang di Maluku Utara.
Manusia, adalah makhluk kreatif yang mampu memproyeksikan masa depan, dalam potensi itu, manusia juga yang paling banyak tertipu oleh proyeksi dirinya sendiri. “Nanti” bukan soal waktu, kita mesti memahami, bahwa kata ‘Nanti’ adalah mekanisme pertahanan Ego yang hampir tidak dirasakan oleh manusia dan yang paling diremehkan dalam sejarah panjangnya peradaban, neorosains dan psikologi kognitif telah membuktikan itu.
Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan sistematis untuk meremehkan urgensi masa depan, sebuah fenomena yang dikenal dalam ilmu perilaku sebagai temporal discounting atau penurunan nilai waktu. Studi modern menemukan bahwa individu dalam meperlakukan “persepsi masa depan” tidak jauh berbeda dengan memperlakukan orang asing, suatu sikap yang cenderung acuh dan tidak peduli. Inilah akar dari ilusi ‘Nanti’, di mana otak tidak lagi merasakan masa depan secara emosional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih jauh, jika anda membaca teori Terror Management, maka anda akan mendapati suatu konteks psikologi yang bersifat penundaan, bahwa sesungguhnya sikap penundaan disinyalir dengan kondisi ketakutan terhadap kegagalan maupun kematian. Ego adalah musuh nyata yang setiap saat membangun benteng ilusi untuk diri seperti kata ‘Nanti’, muncul karena dorongan Ego untuk menghindari konfrontasi dengan keterbatasan waktu.
حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّا ۗاِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam barzakh) sampai pada hari mereka dibangkitkan. (Q.S. Al-Mu’minun: 99-100)
Dalam ayat ini, Allah secara presisi menjelaskan kondisi psikologis sebagaimana yang kita bahas sekarang. Yaitu suatu kondisi penundaan. Kata “La’alli” menurut penulis dan dikuatkan oleh beberapa pandangan ulama, kata tersebut mengandung nada spekulatif, bahwa manusia sekalipun tengah berada di ambang kematian, bahkan setelahnya masih berhipotesis terhadap kemungkinan.
Dalam memandang realitas ini, saya juga mencoba menjelaskannya menggunakan perspektif psikologi analitis Carl Gustav Jung, ia menyampaikan, bahwa ego adalah pusat kesadaran. Ini adalah mekanisme otak untuk memberikan kesadaran terhadap kesinambungan. Namun Jung juga menjelaskan, bahwa ego yang tidak terkontrol akan menjadi tiranikal kronis. Maka untuk mengatasi problem ini, dalam Islam dikenal dengan proses Tazkiyatun Nafsh, proses pemurnian jiwa, Jung menyebut ini sebagai proses Individuation; proses menemukan kedirian dengan melepas ilusi Ego agar diri menjadi lebih autentik.
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syams: 9-10).
Berdasarkan ayat tersebut, makna “Menyembelih ego” bukanlah sebuah metafora, tetapi ini adalah cara kita untuk melepaskan diri dari konstruksi ego yang tidak autentik. Itulah kenapa, penulis sepakat, bahwa “Kematian yang paling berbahaya bukanlah kematian fisik yang datang tanpa undangan, melainkan kematian kesadaran yang kita izinkan berlangsung perlahan di balik kata ‘nanti’.”
Oleh karena itulah, mekanisme perbaikan ego, sedini mungkin sudah dipraktekkan, sebab dikhawatirkan kesadaran terhadap ilusi ego akan merambat pada tingkat kemajuan dan perbaikan kualitas manusia. Cara untuk menyelesaikan problem ini, adalah dengan banyak mengingat mati. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW, bersabda; Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan, yakni Kematian. Ini bukan sekadar ungkapan, tetapi suatu terapi yang terbukti ampuh mengatasi ilusi ego kita sendiri.
Akhirnya, Ilusi “nanti” adalah hasil dari proses kerja antara ego yang tidak autentik yang terus menghindari ketidaknyamanan. Menyembelih ego bukan berarti menghilangkan identitas, melainkan melepas lapisan-lapisan ilusi yang selama ini menghalangi manusia dari versi dirinya yang paling jujur dan paling hidup. Dan proses itu tidak bisa menunggu “nanti” karena kematian tidak pernah membaca agenda harian kita.









