MENGGUGAT TUHAN YANG MASKULIN

Rabu, 23 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rizky Ramli

Ketua Umum HMI Komisariat Ilmu Budaya
Kader FORSAS-M.U

Ketika pertama kali membaca judul “Menggugat Tuhan yang Maskulin”, mungkin muncul kesan provokatif, bahkan mengundang kontroversi. Saya menyadari bahwa menggunakan judul seperti ini dalam konteks pembacaan keislaman tentu memerlukan kehati-hatian. Namun, justru karena itulah saya memilih untuk tetap menggunakannya, bukan untuk menggugat Tuhan sebagai Zat Yang Maha Sempurna, melainkan menggugat konstruksi maskulinitas yang selama ini dilekatkan pada-Nya melalui tafsir dan institusi keagamaan yang didominasi oleh laki-laki.

Judul ini adalah sebuah undangan untuk berpikir ulang, benarkah Tuhan itu maskulin? Atau justru kita yang memaksakan sifat-sifat maskulin pada Tuhan agar selaras dengan tatanan sosial yang timpang? Tulisan ini adalah hasil dari perenungan saya setelah membaca karya Dr. Kaukab Siddique yang menggunakan judul yang sama. Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan hasil pembacaan saya, sekaligus menjelaskan kenapa penting bagi kita khususnya generasi Muslim saat ini untuk berani mempertanyakan ulang warisan tafsir yang telah lama mapan.

Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), saya menulis esai ini bukan dalam semangat pembangkangan, melainkan dalam semangat ijtihad intelektual. Membaca buku Challenging the Masculinization of God karya Dr. Kaukab Siddique menyadarkan saya betapa pentingnya keberanian untuk menggugat warisan tafsir yang selama ini diterima begitu saja sebagai kebenaran mutlak, padahal ia adalah hasil sejarah dan relasi kuasa. Dalam esai ini, saya ingin membagikan hasil pembacaan saya atas buku tersebut, mengikuti kerangka yang ditawarkan oleh penulis soal posisi perempuan dalam masyarakat Islam, pembacaan ulang terhadap teks-teks dasar, dan suara-suara perempuan Muslim sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perempuan dalam bayang-bayang maskulinitas Agama

Islam lahir dalam masyarakat yang menindas perempuan, bayi perempuan dikubur hidup-hidup, perempuan dipandang sebagai harta warisan, dan moralitas seksual sangat timpang. Ketika Nabi Muhammad datang membawa risalah Islam, ajaran-ajarannya merevolusi pandangan terhadap perempuan, perempuan diberikan hak waris, diakui sebagai pemilik jiwa spiritual yang setara, bahkan diberi peran aktif dalam komunitas keagamaan dan politik. Namun, warisan ini perlahan dikerdilkan oleh tafsir para ulama pasca Nabi, yang sebagian besar membatasi perempuan atas nama kemaslahatan.

Salah satu bagian yang membuat saya berpikir ulang adalah pembacaan Siddique atas QS 4:34. Ayat ini biasanya digunakan untuk membenarkan dominasi laki-laki dalam rumah tangga, termasuk dalam bentuk kekerasan yang dibenarkan secara agama. Siddique membongkar logika tersebut dan menunjukkan bahwa ayat tersebut tidak berdiri sendiri. Ia harus dibaca dalam konteks ayat-ayat lain yang menekankan keadilan dan kasih sayang, seperti QS 4:19 dan QS 24:6–10. Melalui pendekatan ini, saya menyadari bahwa penafsiran yang tidak adil seringkali lahir dari pembacaan yang tidak utuh terhadap teks.Tuhan, Gender dan Teks SuciSalah satu momen paling menggugah dalam pembacaan saya atas karya Siddique adalah ketika ia mempertanyakan “Apakah Allah itu laki-laki atau perempuan?” Sekilas, ini tampak seperti pertanyaan spekulatif, bahkan nyaris tak perlu. Namun, sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang juga mempelajari linguistik, saya justru melihatnya sebagai pintu masuk untuk mengkaji bagaimana bahasa, tafsir, dan kuasa saling berkelindan dalam membentuk imajinasi keagamaan kita.

Dalam bahasa Arab, kata “Allah” memang kerap dirujuk dengan kata ganti “huwa”, bentuk maskulin secara gramatikal. Tetapi dalam ilmu linguistik, bentuk maskulin di sini tidak merujuk pada jenis kelamin biologis, melainkan merupakan kategori struktural dalam sistem bahasa. Sayangnya, gramatika ini telah lama dibaca secara teologis: bahwa maskulinitas bahasa mencerminkan maskulinitas Tuhan. Di sinilah letak persoalannya.

Kita sedang berhadapan dengan warisan panjang pemaknaan yang luput membedakan antara bahasa sebagai sistem simbol dan iman sebagai pengalaman spiritual. Ketika bentuk maskulin dalam bahasa diterima begitu saja sebagai cerminan sifat ilahi, maka konstruksi sosial patriarkal menemukan legitimasi ilahiah yang nyaris tak terbantahkan. Tanpa kita sadari, Tuhan dikurung dalam ruang sempit imajinasi maskulin yang justru bertentangan dengan hakikat-Nya yang transenden dan melampaui segala kategorisasi manusiawi termasuk soal gender.

Dengan kata lain, penggunaan “Huwa” untuk Allah bukan karena Tuhan adalah laki-laki, tetapi karena struktur bahasa Arab menuntut bentuk kata ganti tertentu saat menyebut entitas yang tidak memiliki jenis kelamin. Ini yang sering tidak dibedakan dalam penafsiran umum, sehingga muncullah anggapan bawah sadar bahwa Tuhan “maskulin”. Justru, seperti ditunjukkan Siddique, nama-nama Allah seperti ar-Rahman dan ar-Rahim mengandung akar kata “rahim” yang secara biologis dan simbolik sangat feminin menjadi pengimbang yang menunjukkan bahwa Tuhan melampaui konstruksi gender apa pun.

Di sinilah kita menemukan masalah, teksnya tidak patriarkal, tetapi tafsirnya. Tafsir ini tidak netral. Ia membawa serta imajinasi sosial yang dibentuk oleh sistem yang memihak laki-laki. Bagian ini memantik perenungan mendalam dalam diri saya, sejauh mana saya sendiri tanpa sadar menyematkan sifat-sifat laki-laki pada Tuhan? Dan apakah ini mempengaruhi bagaimana saya memandang relasi antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat?

Siddique juga mengingatkan bahwa dalam sejarah Islam, banyak perempuan memiliki posisi penting seperti Zakiyyah Abdul Khaliq, Azam Taleghani, hingga Jaleelah Yusuf bukan hanya hadir sebagai objek dalam narasi besar agama, tetapi sebagai subjek yang aktif menggugat dan menafsirkan ulang dari dalam. Mereka tidak sekadar mengeluhkan ketertindasan, tetapi mengartikulasikan iman sebagai perlawanan terhadap sistem yang berusaha membungkamnya.

Kisah Jaleelah Yusuf sangat mengusik kesadaran saya. Seorang mualaf dari Amerika, ia menemukan kebebasan spiritual dalam Islam, namun harus berhadapan dengan tembok patriarki yang kokoh dalam masyarakat Muslim. Ini ironi yang nyata: Islam, yang secara teologis membebaskan, dalam praktik sosial justru dibajak oleh struktur kekuasaan yang mengekang.Dari pengalaman mereka, mari kita belajar bahwa keadilan gender dalam Islam bukan semata-mata persoalan teks suci. Teks, sejatinya, adalah ruang terbuka bagi interpretasi. Yang menjadi soal adalah siapa yang berhak menafsir, dan dengan perspektif apa tafsir itu dibentuk. Maka perjuangan perempuan Muslim bukan hanya soal membacakan ayat-ayat baru, tetapi juga soal merebut otoritas membaca itu sendiri di tengah dominasi wacana yang lama menutup ruang tafsir bagi suara perempuan.

Membaca “Menggugat Tuhan yang Maskulin” membuat saya merefleksikan banyak hal. Pertama, bahwa Islam tidak pernah secara inheren menindas perempuan. Yang menindas adalah tafsir dan struktur kekuasaan yang didominasi oleh laki-laki.

Kedua, bahwa sebagai Muslim kita punya kewajiban untuk membaca ulang ajaran agama kita dengan kacamata keadilan, bukan dengan kacamata dominasi.Buku ini sangat penting bagi saya secara personal, karena ia membuka ruang untuk memahami bahwa beriman tidak harus berarti tunduk pada ketidakadilan. Justru, iman bisa menjadi sumber daya untuk melawan ketimpangan. Dan jika Tuhan adalah sumber keadilan, maka sudah semestinya kita tidak meletakkan-Nya dalam kotak maskulinitas.

Sebagai pembaca yang sedang belajar, saya merasa buku ini bukan hanya menawarkan argumen, tapi juga keberanian, keberanian untuk mempertanyakan, membaca ulang, dan memperjuangkan keadilan dalam iman. Itulah warisan intelektual yang saya rasa sangat penting hari ini, ketika wacana keagamaan kerap kali hanya mengulang doktrin, tanpa membuka ruang tanya yang kritis.

Terakhir dari saya, “Tuhan tak berjenis kelamin, tapi mengapa kita begitu yakin Ia laki-laki? Tulisan ini bukan soal menggugat Tuhan, tapi menggugat cara kita umat dan institusi membungkus-Nya dalam tafsir yang maskulin”

Komentar

Berita Terkait

Refleksi Menyambut Milad HMI Ke – 79 Tahun Hilangnya Kesadaran Kader HMI di Era Hegemoni Teknologi
Menggugah Kesadaran Ideologis, antara Warisan Perjuangan Dan Kenyamanan Elit. (Catatan Kritis Pada Milad HMI Ke – 79)
CATATAN SINGKAT UNTUK MENGAMBIL PELAJARAN : LEON TROTSKY
Kekerasan Seksual terhadap Anak di Halmahera Selatan: Ketika Penegakan Hukum Kehilangan Kepekaan dan Kepastian
KAPITALISME: GLOBALISASI SETENGAH MATI
KNPI Halmahera Selatan Dibajak Kepentingan: DPD I Tutup Mata
BURUH BERKUASA, RAKYAT SEJAHTERA
PRESIDIUM BARU, HARAPAN BARU: MERUMUSKAN PETA JALAN KAHMI HALUT 2025-2030
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 04:56 WIT

Refleksi Menyambut Milad HMI Ke – 79 Tahun Hilangnya Kesadaran Kader HMI di Era Hegemoni Teknologi

Kamis, 5 Februari 2026 - 04:48 WIT

Menggugah Kesadaran Ideologis, antara Warisan Perjuangan Dan Kenyamanan Elit. (Catatan Kritis Pada Milad HMI Ke – 79)

Sabtu, 3 Januari 2026 - 16:37 WIT

CATATAN SINGKAT UNTUK MENGAMBIL PELAJARAN : LEON TROTSKY

Rabu, 31 Desember 2025 - 08:29 WIT

Kekerasan Seksual terhadap Anak di Halmahera Selatan: Ketika Penegakan Hukum Kehilangan Kepekaan dan Kepastian

Selasa, 30 Desember 2025 - 10:10 WIT

KAPITALISME: GLOBALISASI SETENGAH MATI

Minggu, 28 Desember 2025 - 10:09 WIT

KNPI Halmahera Selatan Dibajak Kepentingan: DPD I Tutup Mata

Senin, 8 Desember 2025 - 14:07 WIT

BURUH BERKUASA, RAKYAT SEJAHTERA

Jumat, 5 Desember 2025 - 06:20 WIT

PRESIDIUM BARU, HARAPAN BARU: MERUMUSKAN PETA JALAN KAHMI HALUT 2025-2030

Berita Terbaru

Regional

Satu Unit Mesin PLN Terbakar, Tidak Ada Korban Jiwa

Selasa, 10 Feb 2026 - 16:24 WIT

Nasional

Menhan Siapkan Pelatihan Militer untuk 4.000 ASN Jakarta

Sabtu, 7 Feb 2026 - 12:59 WIT