tajukmalut.com | Halmahera Selatan- Momentum reses masa sidang pertama DPRD Halmahera Selatan berubah menjadi ruang pengaduan krisis. Di hadapan wakil rakyat, warga Jikotamo Dusun Timur menyuarakan jeritan yang selama ini terabaikan: krisis air bersih yang tak kunjung ditangani secara serius. Air layak konsumsi semakin sulit, sementara janji solusi terus menguap tanpa jejak nyata.
Halmahera Selatan kembali dipertontonkan pada wajah klasik pembiaran negara. Di saat pemerintah sibuk dengan laporan dan seremonial, warga Jikotamo Dusun Timur justru bergulat dengan krisis air bersih yang kian akut. Air layak konsumsi menjadi barang mewah, sementara jerigen dan sumur darurat menjadi penopang hidup harian masyarakat.
Di waktu yang sama, abrasi Sungai Ake Buton Desa Buton Kecamatan Obi terus menggerus badan sungai dan mengancam ambruknya rumah warga, akses jalan menuju Rumah Sakit Obi—satu-satunya jalur vital layanan kesehatan rujukan bagi warga Obi dan sekitarnya. Jika akses ini putus, maka keselamatan nyawa dipertaruhkan. Ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan soal tanggung jawab negara atas hak dasar warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Fraksi Golkar DPRD Halmahera Selatan Rustam Ode Nuru menegaskan bahwa situasi ini tidak boleh diperlakukan sebagai rutinitas musiman. Ia mendesak BPBD dan PDAM untuk bertindak cepat, terukur, dan berani, bukan sekadar menunggu laporan kerusakan menjadi arsip.
“BPBD harus segera melakukan mitigasi darurat abrasi, sementara PDAM wajib memastikan pasokan air bersih bagi warga Jikotamo Dusun Timur. Jangan tunggu korban,” tegasnya.
Ia juga mengkritik lambannya respons lintas OPD yang terkesan saling melempar tanggung jawab. Menurutnya, krisis air bersih dan ancaman abrasi adalah alarm keras kegagalan koordinasi.
“Jika akses rumah sakit terputus dan warga tetap tanpa air bersih, maka yang runtuh bukan hanya jalan dan sungai, tapi kepercayaan publik,” ujarnya.
Fraksi Golkar DPRD Halsel meminta langkah darurat segera: perbaikan dan pemasangan jaringan distribusi air bersih, pemasangan bronjong/talud penahan abrasi, serta rencana teknis permanen yang jelas dengan tenggat waktu. Pemerintah daerah diingatkan agar berhenti mengelola krisis dengan rapat, dan mulai menyelesaikannya dengan tindakan nyata di lapangan.
Warga menunggu, waktu berjalan, dan abrasi tidak pernah menunggu keputusan. Jika pemerintah masih abai, sejarah akan mencatat bahwa krisis ini bukan karena alam semata, melainkan karena kelalaian yang dipelihara
Menanggapi hal itu, Direktur PDAM Soleman Bobote via Whatssap membenarkan hal tersebut dan dengan serius akan melakukan penanganan dengan sesegara mungkin dalam waktu.
“Iya benar adanya lokasi itu terjadi kekuarangan pasokan air. kami suda ada program kerja di tahun ini Dan dalam wakut dekat team teknis kami akan segera ke lokasi untuk melakukan pekerjaan pemasangan pompa boster untuk peningkatan tekanan. Alahamdulilah dari PLN juga sudah selesai melakukan pemasangan gardu listrik untuk pembangkit pompa boster.“
Sementara itu kepala BPBD yang dihubungi awak media kami belum memberikan tanggapan dan komentar apapun hingga berita ini diterbitkan.
Warga Desa Buton saat ini menunggu, waktu berjalan, dan abrasi tidak pernah menunggu keputusan. Jika pemerintah masih abai, sejarah akan mencatat bahwa krisis ini bukan karena alam semata, melainkan karena kelalaian yang dipelihara.(red)









