Oleh :
Dea Amelia Putri
Ketua Kohati HMI Komisariat Pertanian UNSAN Cabang Bacan
Hingga hari ini, sebuah stigma kuno masih kerap berbisik di sudut-sudut masyarakat kita: “Setinggi-tingginya sekolah perempuan, ujung-ujungnya akan ke dapur juga.” Kalimat ini tidak hanya menyederhanakan peran domestik, tetapi juga memotong hakikat dasar kemanusiaan seorang perempuan. Ada sebuah kesalahpahaman massal yang menganggap bahwa pendidikan dan pengetahuan bagi perempuan hanyalah sekadar tiket untuk mengejar karier di luar rumah. Padahal, urgensi perempuan untuk berpengetahuan jauh melampaui urusan selembar ijazah atau ruang perkantoran; ini adalah tentang membangun fondasi peradaban.
Perempuan adalah madrasatul ula—sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Rahim seorang perempuan bukan sekadar tempat bertumbuhnya janin secara fisik, melainkan hulu dari pembentukan karakter, logika, dan kecerdasan generasi masa depan. Anak yang cerdas, kritis, dan berempati lahir dari pola asuh seorang ibu yang memiliki keluasan cakrawala berpikir. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa melatih anaknya berpikir logis dan memilah informasi di era banjir digital ini, jika sang ibu sendiri tidak dibekali ilmu pengetahuan untuk menyaringnya? Memutus mata rantai kebodohan dan kemiskinan struktural dalam sebuah keluarga selalu dimulai dari isi kepala perempuannya.
Selain sebagai pendidik generasi, berpengetahuan adalah perisai perlindungan diri bagi perempuan. Realitas sosiologis menunjukkan bahwa perempuan sering kali berada pada posisi yang rentan terhadap berbagai bentuk ketidakadilan—mulai dari manipulasi ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga diskriminasi sosial. Ketika seorang perempuan berpengetahuan, ia memiliki daya tawar (bargaining power) yang kuat. Ia tahu akan hak-hak hukumnya, mampu mengambil keputusan secara mandiri, dan tidak mudah diintimidasi atau digantungkan nasibnya pada belas kasihan orang lain. Pengetahuan memberikan perempuan kedaulatan penuh atas hidupnya sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih jauh lagi, kepedulian perempuan terhadap pengetahuan akan mengubah dinamika sebuah komunitas. Perempuan memiliki kepekaan sosial dan intuisi yang berbeda dalam melihat masalah di lingkungannya, seperti isu stunting, kesehatan reproduksi, ketahanan pangan lokal, hingga kesejahteraan anak. Ketika perempuan-perempuan di tingkat akar rumput dibekali pengetahuan yang mumpuni, mereka akan bertransformasi menjadi penggerak ekonomi kreatif dan agen perubahan yang sangat efektif. Menghidupkan pikiran seorang perempuan sama dengan menghidupkan sebuah komunitas.
Oleh karena itu, narasi bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi harus segera dikubur dalam-dalam. Dapur, sumur, dan kasur bukanlah penjara yang mengharamkan ilmu pengetahuan. Di mana pun seorang perempuan memilih ranah pengabdiannya—apakah menjadi ibu rumah tangga penuh waktu yang hebat, atau menjadi profesional di ruang publik—pengetahuan adalah atribut mutlak yang harus melekat.
Perempuan berpengetahuan bukanlah ancaman bagi kaum laki-laki atau peruntuh tatanan keluarga. Sebaliknya, mereka adalah mitra sejajar yang kokoh untuk bertukar pikiran dan membangun peradaban yang waras. Kita perlu ingat: mendidik seorang laki-laki berarti mendidik seorang individu, tetapi mendidik seorang perempuan berarti sedang mendidik dan menyelamatkan sebuah bangsa.








