Sedimen Limbah Tambang PT ARA dan PT. JAS Tercemar Pesisir Subaim, Kembali Disotor LSM Borero Institute : Pembiaran Dari Pemerintah

Selasa, 25 November 2025 - 11:33 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

tajukmalut.com | Halmahera Timur – Pencemaran pesisir di desa Subaim, Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, oleh aktivitas tambang PT. Alam Raya Abadi (PT. ARA) dan PT. Jaya Abadi Semesta (PT. JAS) dinilai ada pembiaran oleh Pemerintah Daerah Haltim dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Hal itu disampaikan oleh Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Pesisir, LSM Borero Insitute, Asnar Hi. Daud.

Menurut Asmar Hi Daud bahwa dugaan pencemaran di pesisir Subaim diduga kuat berasal dari akrivitas pertambangan PT. ARA dan PT. JAS telah menjadi bukti tentang lemahnya perlindungan Negara terhadap masyarakat pesisir.

Kerusakan pesisir, sedimentasi berulang, keruhnya sungai, rusaknya mangrove, dan menurunnya hasil tangkapan nelayan adalah bentuk-bentuk nyata dari degradasi sosial-ekologis yang tidak bisa lagi dianggap sebagai insiden biasa, melainkan pola sistematis yang terus dibiarkan,” kata, Asmar pada wartawan, Selasa 25 November 2025.

ADVERTISEMENT

alt="ads" />

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akademisi Universitas Kahirun Ternate ini juga menjelaskan, pelanggaran yang terjadi berulang dan tidak pernah diitindak, karena pencemaran yang terjadi di Subaim bukan peristiwa tunggal. Ini adalah kasus berulang yang telah disaksikan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

Endapan lumpur datang silih berganti, namun tidak ada langkah korektif, investigasi tuntas, atau sanksi tegas dari otoritas pemerintah. Ini adalah contoh klasik dan paling parah dari lemahnya pengawasan industri ekstraktif di daerah yang kaya sumber daya namun minim perlindungan,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan, kerusakan seperti ini telah mengganggu produktivitas dan keberlanjutan sumber daya pesisir, penghidupan nelayan dan petani, kesehatan ekologis mangrove dan perairan pantai, serta stabilitas ekonomi keluarga pesisir.

Dari sudut pandang akademik, kondisi ini menandakan gangguan menyeluruh pada sistem sosial-ekologis (Social-Ecological System/SES) di pesisir Subaim,” ruturnya.

Ia juga mengatakan, Pemerintah Kabupaten Haltim gugur dalam tanggung jawab moral dan konstitusional, sebab pernyataan sering disampaikan “kewenangan tambang ada di provinsi” adalah dalih administratif yang tidak sejalan dengan amanat perlindungan warga. Pemerintah kabupaten adalah garda terdepan pelayanan publik dan perlindungan masyarakat, dan ketika pencemaran lumpur dan kerusakan terjadi di wilayah kabupaten.

Maka pemerintah kabupaten wajib turun tangan, menginvestigasi, mengadvokasi dan memitigasi dampak, serta memastikan keselamatan warganya. Mengalihkan tanggung jawab kepada pihak lain adalah bentuk pelepasan kewajiban moral yang tidak dapat dibenarkan,” cetusnya.

Lebih lanjut, Pemerintah Provinsi Maluku Utara gagal menjalankan pengawasan sebagai pemegang kewenangan formal pertambangan, Pemerintah Provinsi Maluku Utara memiliki mandat untuk menegakkan aturan dan menindak pelanggar.

“Namun sampai saat ini tidak ada tindakan nyata yang dapat menghentikan pola kerusakan tersebut. Ketiadaan sanksi administratif, penghentian operasi, atau audit publik yang transparan menunjukkan lemahnya komitmen terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat.,” katanya.

Dosen Fakultas dan Ilmu Kelautan ini juga mengataka, dalam kajian tata kelola publik, kondisi ini merupakan governance failure yang lahir dari lemahnya koordinasi serta absennya keberpihakan terhadap masyarakat hilir yang terdampak langsung, serta Negara mengabaikan prinsip keadilan sosial–ekologis

Masyarakat Subaim adalah kelompok yang paling rentan, namun paling sedikit menerima perlindungan. Dalam kerangka environmental justice, kondisi ini menunjukkan ketimpangan siapa yang menikmati manfaat dan siapa yang menanggung beban, ketidakadilan akses terhadap keamanan lingkungan, serta
marginalisasi masyarakat pesisir dalam proses pengawasan tambang,” pungkasnya.

Dia menambahkan, keuntungan ekonomi dari aktivitas ekstraktif dinikmati di tingkat atas. Beban kerugian ditanggung masyarakat lokal yang bergantung sepenuhnya pada ekosistem pesisir sebagai sumber hidup. maka tuntutan akademik kami adalah mendesak pemerintah kabupaten dan provinsi untuk segera mengambil langkah-langkah berikut:

1. Melaksanakan investigasi menyeluruh dan independen dengan melibatkan akademisi, lembaga lingkungan, masyarakat lokal, dan institusi profesional yang kompeten.

2. Menghentikan sementara operasi PT ARA dan PT JAS sampai audit lingkungan dilakukan secara transparan.

3. Mewajibkan pemulihan ekologis yang terukur, termasuk rehabilitasi ekosistem pesisir, pemulihan sungai, dan pembersihan pantai/pesisir berdasarkan standar ilmiah.

4. Menetapkan kompensasi layak kepada masyarakat pesisir mencakup kerugian petani, nelayan, dan dampak ekonomi lainnya.

5. Membangun tata kelola lintas-otoritas yang tegas dan efektif, agar tidak ada wilayah yang menjadi “korban kewenangan” akibat birokrasi yang saling melempar tanggung jawab.

6. Penegasan Moral

Lingkungan hidup bukan korban sah pembangunan. Pesisir Subaim bukan ruang kosong untuk ditukar dengan nilai investasi.

Dan masyarakat pesisir bukan angka statistik yang boleh diabaikan ketika perusahaan merusak ruang hidup mereka.

Jika negara terus menghindar dari tanggung jawabnya, maka yang tenggelam bukan hanya ekosistem Subaim, tetapi juga martabat pemerintahan yang seharusnya melindungi rakyatnya. Demikian pernyataan sikap ini disusun sebagai tanggung jawab moral dan akademik untuk menegakkan keadilan sosial serta memastikan keberlanjutan lingkungan hidup di Maluku Utara.(red)

Komentar

Berita Terkait

Ketua GMNI Halsel Munawir Mandar Besuk Korban Penikaman di Anggai, Apresiasi Gerak Cepat Polsek Obi
Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026, Pendapatan Daerah Haltim di Proyeksikan Rp147.137 Triliun
Ketua GMNI Halsel Munawir Mandar Desak Pemkab Halsel Tutup Fortune yang Diduga Jual Miras
BEM FIB UNKHAIR Gelar Manifesto FIB UNKHAIR 2026, Seni sebagai Instrumen Jalan Juang dan Jalan Pulang
Sambut HUT RI ke-81, DPC Gerindra Halsel Bagikan Sembako untuk Yatim Piatu dan Janda
Rumah Ibadah Diduga Diintimidasi di Labuha, SEKPHAS Desak Aparat Usut Tuntas
“SMP Alkhairaat Tobelo Raih Juara I Gerak Jalan Indah, Tampilkan Aksi Memukau”
DUGAAN PREMANISME DAN INTIMIDASI DI DESA LABUHA, PERSOALAN TANAH WAKAF DIMINTA DITINDAKLANJUTI
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:35 WIT

Ketua GMNI Halsel Munawir Mandar Besuk Korban Penikaman di Anggai, Apresiasi Gerak Cepat Polsek Obi

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:05 WIT

Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026, Pendapatan Daerah Haltim di Proyeksikan Rp147.137 Triliun

Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:03 WIT

Ketua GMNI Halsel Munawir Mandar Desak Pemkab Halsel Tutup Fortune yang Diduga Jual Miras

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:48 WIT

BEM FIB UNKHAIR Gelar Manifesto FIB UNKHAIR 2026, Seni sebagai Instrumen Jalan Juang dan Jalan Pulang

Senin, 17 Agustus 2026 - 02:11 WIT

Rumah Ibadah Diduga Diintimidasi di Labuha, SEKPHAS Desak Aparat Usut Tuntas

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:48 WIT

“SMP Alkhairaat Tobelo Raih Juara I Gerak Jalan Indah, Tampilkan Aksi Memukau”

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:46 WIT

DUGAAN PREMANISME DAN INTIMIDASI DI DESA LABUHA, PERSOALAN TANAH WAKAF DIMINTA DITINDAKLANJUTI

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:46 WIT

BBM PLN Saketa Diduga Dicuri, Pemuda Saketa Tantang Polres Halsel dan Inspektorat PLN Buka-bukaan

Berita Terbaru

Opini

Dirgahayu RI, Merdeka dari Mafia Kerah Putih

Senin, 17 Agu 2026 - 13:30 WIT