tajukmalut.com | Halmahera Tengah – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 pada 17 Agustus 2025, Badan Koordinasi Daerah Otonomi Baru (DOB) Patani–Gebe Kepulauan akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan bertema “Penguatan Sumber Daya Pertahanan dan Pangan Maritim di Gugusan Pulau Terluar dan Kawasan Perbatasan Negara.”
Puncak acara akan ditandai dengan pembentangan Bendera Merah Putih raksasa sepanjang 150 meter, membentang di antara gugusan Pulau Yiew, Liwo, dan Sayafi, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Kegiatan seremonial ini juga dirangkai dengan aksi penanaman bibit pertanian, reboisasi terumbu karang, bakar ikan terpanjang di Pulau Liwo, serta pengibaran bendera Merah Putih di Pulau Sain dan Piyai, Kecamatan Pulau Gebe.
Menurut Taher Abd Karim, Wakil Ketua DOB Patani–Gebe Kepulauan sekaligus Ketua Panitia Kegiatan, pembentangan bendera ini merupakan kali pertama yang dilakukan di gugusan pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan antarprovinsi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kegiatan ini bertujuan membangkitkan kesadaran nasionalisme dan peran aktif masyarakat perbatasan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini bagian dari pendekatan sistem pertahanan keamanan negara sesuai amanat UU No. 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, PP No. 26 Tahun 2008, serta PP No. 62 Tahun 2010 tentang Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT),” jelas Taher.
Pulau Yiew sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu dari 111 pulau terluar strategis nasional, serta menjadi referensi penetapan titik dasar (base point) penarik garis batas maritim Indonesia dengan Negara Palau di kawasan Samudra Pasifik.
Dalam pernyataannya, Taher juga mengutip Kepala BNPP/Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, yang menekankan pentingnya menjaga eksistensi pulau-pulau terluar agar tidak mudah diklaim negara lain.

Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini juga memuat pesan ekologis dan ekonomi. Pembersihan pantai dan penanaman mangrove akan menjadi bagian dari bakti sosial masyarakat, sekaligus mendorong pengembangan potensi pangan maritim serta pelestarian kawasan perairan yang telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO dalam Konferensi Paris tahun 2022.
Dengan melibatkan ratusan warga dan elemen strategis, kegiatan ini diharapkan memperkuat integrasi nasional, mempertegas simbol-simbol negara di wilayah rawan klaim, serta membangun semangat gotong royong dan pemberdayaan masyarakat perbatasan.(red)









