Warga Moti Meninggal, HMI Soroti Buruknya Layanan Kesehatan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 16:49 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

tajukmalut.com | Ternate- Meninggalnya seorang warga Pulau Moti setelah menunggu proses rujukan menggunakan ambulans laut mendapat sorotan dari Direktur Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Ternate, Safril Ismail.

Safril menilai peristiwa tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan teknis semata. Menurutnya, kejadian ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat kepulauan yang harus segera dijelaskan dan dievaluasi oleh Pemerintah Kota Ternate.

“Ini bukan lagi sekadar soal ambulans terlambat. Ini soal nyawa manusia. Kalau seorang warga harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan rujukan sampai akhirnya meninggal, maka pemerintah harus menjelaskan di mana sistem itu gagal,” tegas Safril.

ADVERTISEMENT

alt="ads" />

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mempertanyakan efektivitas sistem pelayanan kesehatan yang selama ini telah disiapkan Pemerintah Kota Ternate untuk masyarakat kepulauan.

Menurut Safril, pemerintah tidak cukup hanya menunjukkan bahwa ambulans laut tersedia atau sistem rujukan telah dibuat. Ukuran keberhasilan pelayanan publik adalah ketika sistem tersebut benar-benar bekerja saat masyarakat berada dalam kondisi darurat.

“Jangan hanya sibuk menunjukkan bahwa ambulans laut ada dan prosedur rujukan sudah dibuat. Pertanyaannya, ketika warga Moti membutuhkan pertolongan, apakah sistem itu benar-benar bekerja?” ujarnya.

Safril menilai Pemerintah Kota Ternate harus berani mengevaluasi pelayanan dari hulu hingga hilir. Mulai dari pelayanan di puskesmas, proses penetapan rujukan, komunikasi antarfasilitas kesehatan, kesiapan armada, hingga waktu respons dan perjalanan menuju rumah sakit rujukan.

“Kalau prosedurnya ada tetapi responsnya lambat, berarti ada masalah dalam implementasi. Kalau armadanya ada tetapi tidak siap ketika dibutuhkan, berarti ada masalah dalam manajemen. Jangan semua persoalan kemudian ditutup dengan alasan geografis,” katanya.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya sudah mengetahui karakter Kota Ternate sebagai daerah kepulauan. Karena itu, persoalan jarak dan transportasi seharusnya sudah menjadi bagian dari desain pelayanan kesehatan.

“Laut bukan alasan yang baru diketahui pemerintah hari ini. Pemerintah tahu Moti itu pulau. Justru karena itu sistem pelayanan harus dibuat lebih siap. Jangan masyarakat yang kemudian menanggung kelemahan sistem tersebut,” tegas Safril.

Safril juga meminta kasus ini tidak berhenti pada pernyataan belasungkawa. Menurutnya, masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

“Kami tidak ingin kasus ini berhenti pada belasungkawa. Keluarga korban dan masyarakat berhak mendapatkan penjelasan. Kalau ada keterlambatan, jelaskan penyebabnya. Kalau ada kesalahan dalam sistem, akui dan perbaiki,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat kepulauan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Jarak geografis tidak boleh membuat warga Moti menerima standar pelayanan yang lebih rendah dibandingkan masyarakat yang berada di pusat Kota Ternate.

“Warga Moti bukan warga kelas dua. Mereka bagian dari Kota Ternate dan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pertolongan ketika berada dalam kondisi darurat,” katanya.

*HMI Tuntut Pemda Buka Penjelasan*

Atas peristiwa tersebut, LKMI HMI Cabang Ternate mendesak Pemerintah Kota Ternate untuk segera mengambil langkah konkret.

Pertama, meminta Pemerintah Kota Ternate dan Dinas Kesehatan angkat bicara secara terbuka mengenai kronologi meninggalnya warga Moti, termasuk waktu pasien dinyatakan membutuhkan rujukan, waktu permintaan ambulans dilakukan, proses koordinasi, hingga alasan terjadinya keterlambatan.

Kedua, meminta Pemkot Ternate melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rujukan kesehatan wilayah kepulauan, bukan hanya mengevaluasi keberadaan ambulans laut, tetapi juga mekanisme koordinasi, waktu respons, kesiapan petugas, dan kesiapan armada.

Ketiga, meminta pemerintah memastikan ambulans laut dalam kondisi benar-benar siaga dan memiliki mekanisme respons cepat, terutama untuk wilayah Moti, Hiri, dan Batang Dua.

Keempat, meminta Pemkot Ternate membuka standar atau target waktu respons pelayanan ambulans laut kepada publik, sehingga masyarakat dapat mengetahui standar pelayanan yang seharusnya mereka terima dan pemerintah dapat dimintai pertanggungjawaban apabila standar tersebut tidak terpenuhi.

Kelima, meminta adanya mekanisme pengawasan dan evaluasi berkala terhadap pelayanan kesehatan kepulauan, agar persoalan yang sama tidak kembali terjadi dan evaluasi tidak baru dilakukan setelah jatuhnya korban.

“Kami meminta Pemkot Ternate jangan defensif terhadap kritik. Anggap kasus ini sebagai alarm. Pemerintah harus menjelaskan, mengevaluasi, dan memperbaiki. Jangan sampai setelah kasus ini reda, semuanya kembali seperti biasa dan masyarakat kembali menunggu ketika keadaan darurat datang,” tegas Safril.

Ia menambahkan, pemerintah harus membuktikan bahwa sistem pelayanan kesehatan kepulauan bukan sekadar program di atas kertas.

“Kami ingin melihat pemerintah hadir dalam bentuk sistem yang bekerja. Karena bagi masyarakat yang sedang membutuhkan pertolongan, yang dibutuhkan bukan janji, bukan seremoni, dan bukan sekadar laporan keberhasilan. Yang dibutuhkan adalah pertolongan yang datang tepat waktu,” pungkas Safril.(red)

Komentar

Berita Terkait

Soroti Tenaga Kerja, DPRD Haltim RDP Bersama Antam Group
Warga Desa Bobo Desak Inspektorat Audit Kades Bobo, Diduga Dana Desa Tak Transparan
DKP Haltim Respon Positif Perda Pemberdayaan Nelayan Kecil, Sejalan Dengan Komitmen Pemda
Hasby Yusuf Serahkan Bantuan Beasiswa PIP di SD Alkhairaat Labuha
Rustam Ode Nuru: KAHMI Halsel Siap Jadi Mitra Kritis-Konstruktif dan Kawal Kemajuan Bumi Saruma
MW KAHMI Maluku Utara Hadiri Pelantikan MD KAHMI Halmahera Selatan
Hasby Yusuf Hadir di Halmahera Selatan, Salurkan Bantuan Sound System untuk Majelis Taklim
Hasby Yusuf Salurkan Bantuan Al-Qur’an, Iqra dan Sarung untuk Warga Desa Goro-Goro
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 16:49 WIT

Warga Moti Meninggal, HMI Soroti Buruknya Layanan Kesehatan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 16:45 WIT

Soroti Tenaga Kerja, DPRD Haltim RDP Bersama Antam Group

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:17 WIT

Warga Desa Bobo Desak Inspektorat Audit Kades Bobo, Diduga Dana Desa Tak Transparan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:25 WIT

DKP Haltim Respon Positif Perda Pemberdayaan Nelayan Kecil, Sejalan Dengan Komitmen Pemda

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:35 WIT

Hasby Yusuf Serahkan Bantuan Beasiswa PIP di SD Alkhairaat Labuha

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:33 WIT

MW KAHMI Maluku Utara Hadiri Pelantikan MD KAHMI Halmahera Selatan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:09 WIT

Hasby Yusuf Hadir di Halmahera Selatan, Salurkan Bantuan Sound System untuk Majelis Taklim

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:53 WIT

Hasby Yusuf Salurkan Bantuan Al-Qur’an, Iqra dan Sarung untuk Warga Desa Goro-Goro

Berita Terbaru

Regional

Warga Moti Meninggal, HMI Soroti Buruknya Layanan Kesehatan

Selasa, 25 Agu 2026 - 16:49 WIT

Regional

Soroti Tenaga Kerja, DPRD Haltim RDP Bersama Antam Group

Selasa, 25 Agu 2026 - 16:45 WIT