Oleh: Ibnu Furqan
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
“Demi Waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian”. (Qs. Al-Ashr: 1-2)
IMAM SYAFI’I DAN SIKAPNYA TERHADAP WAKTU
Imam Syafi’i adalah ulama yang terkenal dengan keilmuannya, ketawadhuhan, serta sikap menghargai waktu yang dapat diambil pelajaran untuk kita saat ini. Kisah ini diambil dalam Manaqib al-Imam asy-Syafi’I karya Imam Baihaqi.
Dikisahkan ketika rambutnya Imam Syafi’I dicukur oleh tukang cukur. Bersamaan dengan itu, Imam Syafi’I terdesak waktunya untuk Muraja’ah (Mengulang Hafalan Qur’an), beliau meminta kepada tukang cukur untuk dipercepat proses mencukur rambutnya. Karena merasa khawatir tukang cukur melukai mulut sang Imam, ia pun memprotes Imam Syafi’i. tetapi Imam Syafi’I menjawab: “Lebih baik lidahku terpotong daripada aku berhenti sedetik saja untuk mengulang hafalan Al Qur’an”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Lebih Baik Lidahku terpotong…”, frasa ini seolah Imam Syafi’I ingin melukai dirinya, namun maknanya jauh dari perkiraan kita, frasa itu layaknya Hiperbola, sebuah ungkapan yang menegaskan betapa Imam Syafi’I menghargai waktu, dia tidak berkeinginan kehilangan momentum dengan Al Qur’an. Sebuah tindakan yang spontan lahir dari seorang yang begitu memegang prinsip manajemen waktu yang tinggi. Ya, sebuah tindakan yang muncul karena kebulatan tekad dalam menghargai serta memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
KEBEBASAN
Kebanyakan orang menganggap disiplin adalah tindakan kaku, seolah menjadi penjara bagi kebebasan. Ini adalah kesalapahaman, sebab disiplinlah yang membebaskan anda dari kecemasan, penundaan bahkan penyesalan di kemudian hari. Biasanya orang-orang yang disiplin, akan tahu apa yang mesti diprioritaskan. Karena dengan itu, orang akan benar-benar menghargai waktu.
Kebebasan tidak selamanya dipahami sebagai terlepasnya seseorang dari jeratan waktu, prinsip dan emosional, sebab kebebasan itu adalah kemampuan seseorang dalam menentukan arah hidupnya sendiri. Dia menentukan kesuksesan, kebahagiaan serta kesenangan hanya dengan pengaturan yang bijak lewat kedisiplinan. Dengan berlaku disiplin, anda akan merasa hidup lebih terarah dan bermakna.
“Disiplin berarti melakukan apa yang benar bahkan ketika Anda tidak merasa ingin melakukannya.” (Jocko Willink, Mantan Navy SEAL & Penulis)
ILMU DI BALIK KEBIASAAN
Ketika Anda berkeinginan untuk menjadi lebih disiplin, tidak bisa hanya dengan semangat untuk memulai, anda mesti memiliki ilmu untuk memulainya. Kebiasaan lahir dari pandangan yang positif, pengetahuan akan pengaturannya yang terampil, akan membawa anda pada kemampuan manajemen waktu yang baik. Sebab kebiasaan positif biasanya dimulai dari anggapan, bahwa semua yang baik adalah baik, bukan buruk adalah baik. Keahlian dalam membedakan dua hal yang berbeda itu yang akan membuat anda beda dengan yang lain.
Charles Duhigg dalam The Power of Habit memberikan kita tiga komponen kebiasaan: Isyarat (Cue). Isyaratlah yang memulai suatu kebiasaan. Rutinitas (Routine). Tindakan yang dilakukan. Imbalan (Reward). Hasil yang memperkuat sebuah kebiasaan.
Anda dapat memulainya dengan memaksimalkan otak sebagai mesin pembelajaran yang luar biasa. Otak akan bereaksi terhadap tindakan yang anda lakukan berulang kali, otak membentuk jalur saraf yang semakin kuat dengan kebiasaan. Penelitian modern membuktiktikan 21-66 hari tindakan yang berulang akan menjadi otomatis. Sejak itulah anda tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan tindakan positif, karena tindakan akan tersistematis dengan sendirinya.
MARI KITA MULAI!
1. Tentukan 3 kebiasaan inti yang ingin Anda bangun bulan ini (tidak lebih dari 3)
2. Kaitkan kebiasaan baru dengan kebiasaan yang sudah ada (habit stacking): ‘Setelah shalat Subuh, saya akan…’
3. Buat lingkungan yang mendukung: siapkan peralatan malam sebelumnya
4. Gunakan ‘Habit Tracker’, centang kalender setiap hari Anda berhasil
5. Aturan ‘jangan pernah lewat dua hari berturut-turut’, jika gagal hari ini, wajib kembali besok
LATIHAN HARIAN
1. Tulis jam bangun ideal Anda dan 3 aktivitas pertama yang akan Anda lakukan
2. Siapkan semua yang dibutuhkan malam sebelumnya (pakaian, buku, tas)
3. Tetapkan ‘zona bebas gadget’, 30 menit pertama tanpa HP
4. Evaluasi setiap malam: apakah rutinitas hari ini berjalan? Apa yang bisa diperbaiki?
“Tubuhmu ibarat kuda tungganganmu. Jika kamu tidak melatihnya dengan disiplin, ia akan membawamu ke mana pun nafsunya menginginkan.” (Imam Al-Ghazali.)









