Oleh Ajhustal Hi Abang
Guru di Yayasan Alkhairaat Kabupaten Halmahera Utara
Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei tidak hanya menjadi penghormatan terhadap Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi kita semua, terutama para pendidik. Penulis melihat bahwa tantangan dunia pendidikan hari ini bukan hanya persoalan kurikulum atau fasilitas, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana relasi komunikasi antara pendidik dan peserta didik yang dibangun dengan nilai-nilai kesantunan dan keteladanan. Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan memudarnya kesantunan di kalangan generasi muda terutama pelajar. Ujaran kasar di media sosial, berkurangnya empati dalam interaksi sosial di sekolah, serta menurunnya rasa hormat terhadap guru yang menjadi problem untuk di cermati bersama terutama kita sebagai pendidik. Namun, fenomena ini tentu tidak muncul secara tiba-tiba atau berdiri sendiri. Ia berkembang dalam lingkungan yang turut membentuk perilaku itu, termasuk lingkungan pendidikan, keluarga, dan media sosial .
Perkembangan pendidikan hari ini menunjukkan adanya tantangan serius dalam aspek moralitas. Di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, nilai-nilai etika sering kali tergerus. Fenomena seperti menurunnya sopan santun, meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan pelajar, hingga lemahnya rasa tanggung jawab sosial menjadi tanda bahwa pendidikan moral belum sepenuhnya berhasil. Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Guru tidak hanya dituntut mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan. Kejujuran, disiplin, empati, dan tanggung jawab tidak cukup diajarkan melalui teori, melainkan harus dihidupkan dalam praktik sehari-hari di lingkungan sekolah. Setiap sikap dan tindakan guru akan menjadi contoh yang diamati dan ditiru oleh siswa.
Lickona menekankan pentingnya pendidikan karakter, termasuk kesantunan sebagai nilai inti seperti hormat, tanggung jawab, dan empati dalam lingkungan sekolah. Kita semua sadar bahwa elemen penting untuk membentuk paradigma siswa adalah guru. Olehnya itu, Hardiknas sepatutnya menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa tanggung jawab guru bukan sekadar mengajar, melainkan membentuk arah untuk menentukan kompas dari masa depan generasi kita. Peran ini jelas menuntut kapasitas yang tidak sederhana. Sebagai guru kita dituntut agar tanggap terhadap perubahan zaman, memahami kebutuhan peserta didik, serta mampu menanamkan nilai moral di tengah derasnya arus digitalisasi . Amanah dan beban seorang guru nyata nya semakin kompleks di era modern, ketika siswa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru sebagai sumber pengetahuan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ki Hajar Dewantara memberikan pesan energi yang sangat mendalam juga, menurut nya guru adalah teladan, penggerak, dan pembimbing. Namun, penulis dapat katakan bahwa amanah ini sering di abaikan oleh kita sebagai pendidik, buktinya masih ada saja pendidik yang menganggap bahwa tugas guru hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran di ruang-ruang kelas. Padahal subtansi dari itu adalah guru dituntut untuk menanamkan nilai, menumbuhkan karakter, sekaligus membentuk harapan dalam diri setiap peserta didik agar mampu menyelaraskan semuanya pada satu kesatuan tata nilai yang kita sebut sebagai moralitas yang tidak terbatas hanya di ruang-ruang kelas.
Penulis mencoba mengkomparasikan kesamaan visi secara hakikat perihal tanggung jawab Guru yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara di atas, juga Ibnu Sina yang di sampaikan berikut ini. Menurut Ibnu Sina, pendidikan harus mencakup keseimbangan antara intelektual, fisik, dan moral. Ibnu Sina menegaskan bahwa guru harus sangat berperan dalam membimbing siswa agar memiliki adab yang baik, karena ilmu tanpa akhlak dapat membawa pada penyimpangan. Ibnu Sina menekankan pentingnya lingkungan pendidikan yang mendukung pembentukan karakter. Guru juga memikul tanggung jawab dalam membangun karakter generasi muda. Fenomena menurunnya etika, meningkatnya perilaku menyimpang, hingga rendahnya empati sosial menunjukkan bahwa pendidikan karakter belum berjalan optimal. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Nilai-nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dicontohkan dalam keseharian.
Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita semua, para pendidik, mengambil waktu untuk merefleksikan kembali bukan hanya apa yang kita ajarkan, tetapi bagaimana kita mengajarkannya. Sebab, dalam setiap kata yang kita ucapkan, cerminan sikap yang kita tampilkan, tersimpan pengaruh besar terhadap cara peserta didik memandang, meniru, dan membentuk dirinya. Sebab pada akhirnya, pendidikan sejati bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi tentang transformasi akhlak, dan itu semua bermula dari keteladanan yang di jalankan pendidik untuk di tiru oleh peserta didik.(*)









