Oleh: Ibnu Furqan S.Hum., Gr.
Tadi! Sebuah unggahan media sosial membuat kaget khalayak dumay suatu fenomena yang nampaknya memperlihatkan sisi lain dari hasil pendidikan kita di Halmahera Utara. Kurang lebih begini headline-nya “Polsek Tobelo mengamankan puluhan pelajar di sebuah tempat bilyar di Desa Gosoma saat jam pelajaran masih berlangsung”. Anak-anak itu bukan hanya memperlihatkan Fenomena ‘bolos sekolah’ yang lumrah, melainkan sebuah pertunjukan simfoni ketidakharmonisan antara warga sekolah, orang tua dan juga pelaku usaha. Pertanyaannya, mengapa ruang kelas tidak lagi memiliki daya tarik dibandingkan meja bilyar? Apakah sekolah sudah bukan lagi menjadi ekosistem yang mencerdaskan? Ataukah ini hanya fenomena biasa?
Ada sebuah istilah pendidikan yang dikemukakan oleh Paulo Freire yaitu banking concept of education. Ini adalah sebuah sistem pendidikan yang cenderung klasik, menjadikan siswa sebagai wadah kosong yang pasif yang siap menampung informasi. Jika melihat fenomena Siswa yang main bilyar, terdapat kemungkinan besar sekolah masih terjebak dalam pola klasik ini, meskipun sudah ada perspektif pendidikan modern yang menekankan pembelajaran mendalam (Deep Learning). Jika benar, maka dapat dipastikan, siswa bukan menjadi subjek pendidikan tapi menjadi objek. Itu artinya, jika model pembelajaran sekarang menekankan pada peran aktif siswa, tantangan nyata yang cenderung pada keahlian begitupun kebolehan dalam interaksi sosial, maka mereka (pelajar di tempat bilyar) adalah kumpulan orang yang menemukan semua itu di atas meja yang bolanya berputar menimbulkan kegirangan tersendiri bagi pelajar-pelajar itu.
“Liberating education consists in acts of cognition, not transferrals of information.”— Paulo Freire.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut hemat penulis, bahwa siiswa yang memilih untuk meninggalkan ruang sekolah demi hiburan sesaat seperti bermain bilyar atau yang lainnya, adalah bukti kegagalan dari kesadaran kritis begitupun posisi mereka di tengah-tengah realitas sosial. Pelajar-pelajar itu tidak salah! Mereka telah menunjukkan, bahwa jika dunia pendidikan tidak bisa membantu siswa memahami korelasi antara aktivitas di kelas dengan masa depan mereka, maka pelarian adalah pilihan paling logis bagi mereka. Sekalipun kepolisian dengan mengandalkan laporan masyarakat yang merasa tidak nyaman dengan perilaku pelajar-pelajar itu, namun mereka belum menyentuh akar kesadaran ini.
Penertiban dari kepolisian selalu dipahami sebagai respons darurat yang nampaknya tidak cukup tanpa adanya langkah mendalam proses edukasi. Catatan tambahan bagi pelaku usaha, mesti bijak melihat konsumen dan bijak pula dalam menyikapi pengunjung. Secara analitis, sekolah harus bertransformasi menjadi ruang dialogis yang memanusiakan, saya kira ini adalah proses restorasi bagi kurikulum kita di Halmahera Utara.
Fenomena pelajar di meja bilyar ini bukan sekadar fenomena biasa tetapi mesti dipahami sebagai alarm keras bagi pendidikan kita di Halmahera Utara. Pendidikan sejatinya adalah proses menyentuh sampai perubahan radikal pada cara guru mengajar, siswa belajar dan orang tua mengawal serta mengawasi setiap perubahan. Sebab dengan itu masyarakat akan memahami sekolah sebagai tempat kesadaran sosial disemai menjadi kesadaran kolektif untuk menjaga keberlangsungan pendidikan di Halmahera Utara.(*)









