Rustam Ode Nuru
Alumni HMI Cabang Ternate
Milad HMI bukanlah sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum muhasabah kolektif. Momentum untuk bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri: masihkah HMI setia pada cita-cita kelahirannya, atau justru perlahan larut dalam arus zaman yang meninabobokan?
HMI lahir bukan untuk mencari aman. Ia tidak dilahirkan dari ruang ber-AC, tidak dibesarkan oleh karpet merah kekuasaan, dan tidak ditujukan untuk mencetak kader yang pandai berkompromi.
HMI lahir dari kegelisahan, dari keberanian melawan arus, dari tekad untuk berdiri di pihak umat dan bangsa meski harus berhadapan dengan risiko.
Namun hari ini, mari kita jujur. Ancaman terbesar HMI di usia lebih dari setengah abad ini bukan larangan, bukan represi, bukan pembubaran. Ancaman terbesar HMI Adalah kenyamanan elit, kenyamanan yang datang perlahan, membujuk kita untuk diam, dan membiasakan kita untuk maklum pada ketidakadilan.
HMI lahir bukan dari ruang nyaman. Ia lahir dari kegelisahan para pendirinya melihat umat yang terpinggirkan, bangsa yang terancam, dan masa depan Indonesia yang dipertaruhkan. HMI dibesarkan oleh pengorbanan, oleh keberanian mengambil risiko, dan oleh keteguhan menjaga nilai keislaman, keindonesiaan, dan keumatan sebagai poros perjuangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warisan terbesar HMI bukanlah deretan jabatan yang pernah diisi oleh para alumninya. Warisan terbesar HMI adalah keberanian berpihak kepada kebenaran, kepada keadilan, dan kepada kepentingan umat serta bangsa.
Kenyamanan elit tidak pernah datang dengan paksaan. Ia datang dengan senyuman, dengan undangan, dengan akses. Dan di situlah banyak gerakan mati tanpa pernah dibubarkan. Kita mulai belajar menahan kritik, bukan karena salah, tetapi karena takut kehilangan relasi. Dan bahkan sebagaian kader mulai berani menyebut kompromi sebagai “kedewasaan“, dan keberanian sebagai “emosi sesaat”.
Di usia ke-79 kita sudah takut bersuara, lalu untuk apa HMI dilahirkan? Jika sejak dini kita lebih sibuk mengatur posisi daripada memperjuangkan nilai, maka HMI sedang berjalan menuju pengkhianatan sejarahnya sendiri.
Zaman telah berubah. Tantangan HMI hari ini tidak lagi selalu berbentuk represi terbuka atau ancaman pembubaran. Tantangan kita hari ini justru jauh lebih halus dan berbahaya: kenyamanan elit. Kenyamanan yang datang dalam rupa akses kekuasaan, kedekatan dengan pengambil kebijakan, dan ruang-ruang empuk yang perlahan melunakkan sikap kritis kita.
Kenyamanan elit sering kali membuat kita lupa bahwa tugas utama gerakan mahasiswa adalah mengganggu ketidakadilan, bukan menyesuaikan diri dengannya. Ia meninabobokan nurani, menormalisasi kompromi, dan menjadikan gerakan kehilangan daya dobraknya. Kita patut bertanya dengan jujur: apakah HMI hari ini masih resah melihat ketimpangan sosial? Masih gelisah menyaksikan demokrasi yang kian prosedural namun kehilangan substansi? Ataukah kita justru terlalu sibuk menjaga posisi, relasi, dan citra?
Warisan perjuangan HMI bukanlah jaringan elit. Warisan kita adalah sikap melawan ketidakadilan, keberanian berpihak, dan keteguhan menjaga jarak dari kekuasaan yang menyimpang.
HMI tidak diciptakan untuk menjadi ornamen demokrasi, tidak pula untuk menjadi pabrik legitimasi kekuasaan. HMI adalah gerakan moral dan gerakan moral yang nyaman adalah kontradiksi.
Mari kita bicara lebih tegas. Kader yang hanya ingin aman, tidak pantas menyebut dirinya kader perjuangan. Intelektual yang takut kehilangan akses, tidak layak memimpin perubahan.
Otokritik adalah napas organisasi kader. Tanpa keberanian mengkritik diri sendiri, HMI hanya akan menjadi organisasi besar secara nama, tetapi kosong secara makna. Ketika kader lebih takut kehilangan akses kekuasaan daripada kehilangan nurani, di situlah sesungguhnya HMI sedang berada di persimpangan sejarah.
Militansi tidak selalu berarti turun ke jalan setiap hari, tetapi ia selalu menuntut keberpihakan yang jelas. Intelektualitas tidak cukup berhenti pada diskusi dan seminar, tetapi harus berujung pada sikap dan tindakan yang membela kepentingan umat dan bangsa.
Di usia ke-79 ini, HMI harus kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan moral dan intelektual. Menjadi intelektual organik yang berpijak pada realitas sosial, bukan intelektual menara gading yang nyaman dengan jargon, tetapi abai terhadap penderitaan rakyat.
HMI harus menjaga jarak kritis dengan kekuasaan, bukan untuk menjadi anti terhadap negara, tetapi agar tetap merdeka dalam berpikir dan bersikap. Karena sejarah telah mengajarkan kepada kita, bahwa gerakan yang terlalu dekat dengan kekuasaan sering kali kehilangan keberaniannya untuk berkata benar. Milad ke-79 ini harus menjadi titik balik. Titik untuk merawat kembali kegelisahan, menajamkan keberpihakan, dan menolak kemapanan yang meninabobokan. HMI tidak boleh berubah menjadi organisasi elit yang rapi secara administratif, tetapi tumpul secara ideologis.
Mari kita rawat kegelisahan itu. Mari kita ganggu ketidakadilan.
Dan mari kita buktikan bahwa HMI tidak dilahirkan untuk tunduk pada kenyamanan elit.
Akhirnya catatan ini saya tutup dengan satu penegasan ilmiah sekaligus politis: Gerakan yang kehilangan kegelisahan ideologis akan kehilangan fungsi sejarahnya. Jika HMI berhenti menggugat, maka ia akan berhenti relevan.
Di usia ke-79 ini, HMI harus memilih dengan sadar: menjadi penjaga warisan perjuangan, atau menjadi bagian dari kenyamanan elit yang meninabobokan.
Semoga Milad ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi momentum kebangkitan kesadaran ideologis Himpunan Mahasiswa Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam.(*)









