Daerah Penghasil Tambang Kaya, Tapi Kenapa Halmahera Selatan Masih Bergantung?

Kamis, 29 Mei 2025 - 03:18 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

tajukmalut.com | Halmahera Selatan, 29 Mei 2025- Kabupaten Halmahera Selatan adalah lumbung nikel dan mineral penting di kawasan Timur Indonesia, namun realitas pembangunan daerah ini justru menyuguhkan ironi. Meski kontribusi sektor tambang sangat besar secara nasional, struktur ekonomi lokal masih lemah, kesejahteraan rakyat stagnan, dan ketergantungan fiskal terhadap pusat tetap tinggi.

Data Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2023 memperlihatkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya mencapai Rp196,6 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan dengan transfer pusat sebesar Rp1,64 triliun. Kontribusi dari pengelolaan kekayaan daerah (termasuk tambang) Rp1,4 miliar atau 56,39% dari target.

Bandingkan dengan Kabupaten Mimika (Papua Tengah) Kabupaten Mimika, rumah dari tambang emas dan tembaga PT Freeport Indonesia, pada 2022 mencatatkan PAD sebesar Rp1,9 triliun lebih dari 10 kali lipat dari Halmahera Selatan. PAD Mimika bahkan menyumbang lebih dari 50% dari total pendapatan daerah, dan sebagian besar berasal dari dividen, retribusi tambang, dan kontribusi CSR yang telah dilembagakan dalam regulasi daerah dan perjanjian khusus dengan Freeport.

Pemerintah Kabupaten Mimika juga menjalankan program afirmatif untuk masyarakat lokal melalui beasiswa, rumah layak huni, dan layanan kesehatan berbasis distrik berbasis dana kompensasi tambang.Selain itu, Morowali penghasil nikel utama di Sulawesi, menerima investasi jumbo dari konsorsium Tiongkok. Pada tahun 2023, PAD Morowali tercatat di atas Rp600 miliar, sebagian besar berasal dari kontribusi perusahaan-perusahaan smelter yang diwajibkan membayar retribusi industri dan bekerja sama dalam pengembangan daerah.

Kabupaten ini juga telah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) khusus kawasan industri, yang menjamin tata kelola lingkungan dan redistribusi manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal.Contoh lain di Kutai Kartanegara, Sebagai daerah penghasil batu bara, Kutai Kartanegara berhasil membukukan PAD di atas Rp1,5 triliun pada 2022. Sumber PAD berasal dari participating interest pada perusahaan migas dan tambang batu bara, serta dividen BUMD energi. Kabupaten ini juga mengalokasikan lebih dari 20% dari APBD untuk infrastruktur dasar dan pemberdayaan ekonomi desa. Mengapa Halmahera Selatan Tertinggal?*Ada beberapa alasan utama:

  • 1. Lemahnya Negosiasi Pemerintah Daerah dengan Korporasi Tambang Tidak seperti Mimika atau Kutai, Halmahera Selatan belum membentuk skema kontribusi tetap atau dividen daerah dari korporasi tambang besar seperti Harita Group & Wanatiara Persada.
  • 2. Belum Ada BUMD Sektor Tambang yang Aktif Halmahera Selatan tidak memiliki Badan Usaha Milik Daerah yang terlibat langsung dalam operasi atau distribusi hasil tambang.
  • 3. Penggunaan Anggaran Belum Fokus pada Rakyat Dari Rp1,52 triliun belanja daerah, hanya Rp63 miliar untuk bantuan sosial dan Rp316 juta untuk subsidi, sementara belanja pegawai menembus Rp408 miliar.4. Ketergantungan Transfer dan Defisit Fiskal Transfer pemerintah pusat masih menjadi tulang punggung APBD, yang menyebabkan kerentanan fiskal jika pola dana pusat berubah.

Belajar dari yang Sudah Maju Untuk mengejar ketertinggalan, Halmahera Selatan dapat mengadopsi strategi berikut:

  • Bangun BUMD Sektor Tambang & Energi seperti Kutai dan Mimika.
  • Susun Perda Tata Kelola Investasi dan CSR Tambang berbasis kepentingan lokal.
  • Alihkan Fokus Belanja ke Infrastruktur Sosial & Ekonomi Rakyat, bukan hanya pegawai dan proyek besar.
  • Negosiasikan Participating Interest dalam operasional tambang besar, khususnya di Pulau Obi.

Kekayaan sumber daya harus menjadi alat untuk mencapai keadilan ekonomi dan sosial. Tanpa reformasi fiskal dan kebijakan pembangunan yang berorientasi rakyat, Halmahera Selatan hanya akan menjadi “tumpukan kerusakan ekologis” tanpa kesejahteraan. (red)

Komentar

Berita Terkait

SISKEUDES Produk BPKP, Sekda Haltim: Mendukung Pengelolaan Keuangan Desa
Didampingi Kuasa Hukum Ramli Antula S.H., M.H., CPAdj ; Tabris Djalal Laporkan Pemilik Usaha PlayStation di Popilo
Seleksi PS. Kayoa Mulai Bergulir, Bidik Telenta Terbaik
Insiden Pemukulan di Rental PS, Kades Popilo Sampaikan Klarifikasi Atas Pemberitaan Media yang Sifatnya Sepihak dan Akan Tempuh Jalur Hukum
Hasby Yusuf Minta TKD Jangan Dipangkas, DBH Jangan di Tahan, itu Hak Daerah
Tekankan Sinergi Pelayanan Kemanusiaan, Bupati: Ingatkan Penguatan Layanan Kesehatan
Rakerda Sukses Digelar, KAHMI Halmahera Selatan Dorong Lahirnya Gagasan Besar untuk Pembangunan Daerah
Bukit Seki Kecamatan Bacan Kandidat Terkuat & Siap Raih Juara Bupati Cup 2026
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 03:37 WIT

SISKEUDES Produk BPKP, Sekda Haltim: Mendukung Pengelolaan Keuangan Desa

Sabtu, 19 September 2026 - 13:06 WIT

Didampingi Kuasa Hukum Ramli Antula S.H., M.H., CPAdj ; Tabris Djalal Laporkan Pemilik Usaha PlayStation di Popilo

Jumat, 18 September 2026 - 03:30 WIT

Seleksi PS. Kayoa Mulai Bergulir, Bidik Telenta Terbaik

Kamis, 17 September 2026 - 13:54 WIT

Insiden Pemukulan di Rental PS, Kades Popilo Sampaikan Klarifikasi Atas Pemberitaan Media yang Sifatnya Sepihak dan Akan Tempuh Jalur Hukum

Kamis, 17 September 2026 - 09:28 WIT

Hasby Yusuf Minta TKD Jangan Dipangkas, DBH Jangan di Tahan, itu Hak Daerah

Selasa, 15 September 2026 - 11:51 WIT

Rakerda Sukses Digelar, KAHMI Halmahera Selatan Dorong Lahirnya Gagasan Besar untuk Pembangunan Daerah

Senin, 14 September 2026 - 09:11 WIT

Bukit Seki Kecamatan Bacan Kandidat Terkuat & Siap Raih Juara Bupati Cup 2026

Senin, 14 September 2026 - 00:33 WIT

Ketua KONI Haltim Resmi Buka Turnamen Futsal Cup I SeOPMI

Berita Terbaru

Regional

Seleksi PS. Kayoa Mulai Bergulir, Bidik Telenta Terbaik

Jumat, 18 Sep 2026 - 03:30 WIT