29 DERAJAT CELCIUS DI KETINGGIAN 1.800 Mdpl (Catatan Perjalanan dari Makkah Menuju Thaif: Menyusuri Jejak Dakwah di Tengah Pegunungan Jeddah 29 September 2026)

Kamis, 1 Oktober 2026 - 04:40 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: RUSTAM ODE NURU

(Ketua Majelis Daerah KAHMI Halmahera Selatan)

Memanfaatkan waktu luang setelah cekin di bandara internasional King Abdul Azis Jeddah dalam perjalanan pulang menuju Tanah Air. Jam di jeddah menunjukan pukul 19.00. Masih ada sedikit waktu sebelum meninggalkan Arab Saudi. Jeda ini Saya gunakan untuk menuliskan sepotong catatan tentang perjalanan yang sebentar lagi harus di tingalkan. Di tengah hiruk pikuk bandara, suara pengumuman penerbangan bersahutan, langkah para penumpang bergerak menuju tujuan masing-masing. Saya justru memilih memojok sejenak, membuka ruang untuk mengingat kembali perjalanan beberapa hari terakhir.

Perjalanan dari Makkah menuju Thaif bukan sekadar perjalanan berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika kendaraan mulai meninggalkan hiruk-pikuk Makkah, menyusuri jalan yang perlahan menanjak, membelah pegunungan, dan membawa kami
menuju sebuah kota yang dikenal dengan udara yang lebih sejuk.

Di layar hanphone jadul yang saya gunakan, suhu menunjukkan angka 29 derajat Celcius. Bagi sebagian orang, 29 derajat mungkin bukanlah ukuran kesejukan. Tetapi setelah merasakan panasnya Makkah, angka itu terasa seperti sebuah jeda. Seperti tubuh yang diberi kesempatan untuk bernapas lebih panjang. Udara berubah, lanskap berubah, mata di manjakan oleh pepohonan yang hijau dan rindang, dan pikiran pun perlahan diajak memasuki ruang perenungan. Di sinilah perjalanan itu menjadi lebih dari sekadar perjalanan geografis.

Kami sedang menuju Thaif, sebuah kota yang berada di kawasan pegunungan Arab Saudi. Kota yang memiliki udara berbeda dari Makkah, Madinah dan Jeddah dengan bentang alam yang lebih hijau dan kehidupan tumbuh-tumbuhan yang terasa kontras dengan gambaran gurun pasir yang selama ini melekat pada Jazirah Arab.

Dibalik teriknya gurun pasiir Arab Saudi, tersembunyi sebuah Oase Surgawi bernama Kota Thhaif. Terletak di atas pegunungan sarawat dengan ketinggian lebih dari 1.800 meter di atas permukaan laut, Kota ini menyuguhnkan pemandangan dinding-dinding batu raksasa yang menjulang tinggi menembus awan, seolah menjadi benteng kokoh yang menjaga keindahanya.

Berbeda dengan wilayah sekitarnya yang gersang, Thaif di anugrahi udara yang sangat sejuk dan embun pagi yang selalu menyelimuti Kota. Angin pegunungan yang berhembus lembut membawa kesegaran yang menenangkan jiwa, menjadikannya tempat pelarian sempurna dari sengatan matahari gurun. Berkah terbesar Kota ini terletak pada tanahnya yang luar biasa subur. Air pegunungan yang jernih mengalir menghidupi lembah-lembah di bawahnya, merubah lanskep berbatu menjadi hamparan hijau yang menakjubkan. Ditanah yang berkah ini perkebunan delima, buah tin dan anggur tumbuh dengan sangat lebat. Namun yang paling memikat dari Thaif adalah hamparan mawar merahmuda (Rosa damascena) yang mekar setiap musim semi. Saat musimnya tiba, seluruh penjuru Kota akan wangi semerbak aroma mawar yang manis dan menenangkan.

Thaif bukan hanya tentang udara sejuk dan pemandangan pegunungan. Thaif adalah tentang sejarah dakwah. Ketika menyebut Thaif, ingatan kita segera dibawa kepada salah satu fase paling berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam.

Sebelum perjalanan itu, Rasulullah mengalami masa yang sangat berat. Khadijah radhiyallahu’anha, sosok yang selama bertahun-tahun menjadi pendamping, penguat dan tempat Rasulullah mendapatkan ketenangan, telah wafat. Tidak lama kemudian, Abu Thalib, orang yang selama ini memberikan perlindungan kepada Rasulullah, juga meninggal dunia. Masa itu kemudian dikenal sebagai ‘Amul Huzn—Tahun Kesedihan.

Dalam situasi penuh tekanan tersebut, Rasulullah melakukan perjalanan menuju Thaif. Harapannya sederhana, menyampaikan dakwah dan menemukan ruang baru bagi risalah Islam Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dakwah itu tidak diterima sebagaimana yang diharapkan.

Rasulullah menghadapi penolakan dan perlakuan yang menyakitkan. Namun, justru di titik itulah kita menemukan salah satu pelajaran terbesar dari perjalanan menuju Thaif.

Dakwah tidak selalu di tempuh melalui jalan yang mudah. Kadang manusia harus melewati penolakan sebelum menemukan penerimaan. Kadang seseorang harus merasakan kesendirian sebelum memahami arti keteguhan. Dan kadang perjalanan yang tampak sebagai kegagalan justru menjadi bagian penting dari sejarah keberhasilan. Thaif mengajarkan kita bahwa perjuangan tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai tujuan. Perjuangan juga diukur dari seberapa kuat seseorang tetap menjaga nilai ketika tujuan belum tercapai.

Perjalanan kami dari Makkah menuju Thaif terasa seperti sebuah perpindahan suasana. Makkah dengan karakter gurunnya menghadirkan hawa panas yang menyentuh tubuh. Sementara Thaif menyambut dengan udara yang lebih sejuk dan lanskap pegunungan. Semakin mendekati Thaif, jalan mulai berkelok. Pegunungan tampak berdiri kokoh. Dari ketinggian, bentang alam terbuka di hadapan mata.

Ada perasaan bahwa alam sedang mengajarkan sesuatu, Bahwa bumi Arab tidak hanya tentang padang pasir. Di beberapa kawasan Thaif, tumbuh berbagai tanaman dan pepohonan. Tanahnya memberikan kehidupan. Perkebunan dan tumbuh-tumbuhan menjadi bagian dari wajah kota. Di tengah kawasan yang selama ini kita bayangkan sebagai tanah tandus, Thaif memperlihatkan wajah lain dari Arabia; hijau, sejuk, dan hidup. Dan di situlah angka 29 derajat Celcius kembali terasa memiliki makna. Bukan semata angka pada termometer. Ia menjadi simbol bahwa kesejukan tidak selalu berarti tanpa hawa panas. Kesejukan terkadang justru terasa karena kita pernah melewati panas.

Salah satu tempat yang kami datangi adalah Masjid Abdullah bin Abbas. Masjid ini dibangun pada tahun 592 Hijriah (sekitar abad ke-12 Masehi) di kawasan jantung Kota Thaif. Masjid ini dibangun untuk mengenang Abdullah Bin Abbas sepupu sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW yang bergelar HIbrul Ummah (tinta atau lautan ilmu umat) Berada di kawasan yang sarat dengan sejarah Islam, masjid ini mengingatkan bahwa sebuah kota tidak hanya memperlihatkan bangunan dan gedung pencakar langit, tetapi Sebuah kota juga dibangun oleh ingatan. Di tempat seperti ini, sejarah tidak berhenti menjadi tulisan dalam buku. Ia menjadi ruang. Ia menjadi bangunan. Ia menjadi nama. Ia menjadi perjalanan. Dan bagi seorang muslim, sejarah itu kemudian berubah menjadi refleksi.

Berada di Thaif membuat kita kembali bertanya, bagaimana mungkin Rasulullah tetap melanjutkan dakwah setelah mengalami penolakan yang begitu berat? Jawabannya adalah bukan hanya sekedar beliau seorang manusia yang kuat. Tetapi Dakwah adalah amanah, Ketikanseseorang memahami perjuangan sebagai amanah, maka penolakan tidak serta-merta menghentikan langkah.

Perjalanan di Thaif juga membawa kamibpada sebuah perpustakaan. Dibagian sisi timur kompleks Masjid ada perpustakaan yang di bangun oleh penguasa lokal Rasyid Pasya Al-Syirwani pada tahun 1291 Hijriah. Perpustakaan ini menyimpan ribuan kitab klasik, literarur Islam Kontemporer, naskah kuno hingga koleksi berharga seperti puluhan jilid cetakan sahih. Tempat ini menjadi pusat riset dan simbol kebangkitan literarur keagamaan untuk meneruskan tradisi keilmuan yang dulu di ajarkan oleh Ibnu Abbas.

Bagi saya, perpustakaan di kota yang menyimpan begitu banyak sejarah memiliki makna tersendiri. Sebab peradaban Islam sejak awal tidak dibangun hanya dengan keberanian, tetapi juga dengan ilmu. Sejarah harus dibaca agar tidak sekadar menjadi cerita. Kisah Rasulullah di Thaif harus dibaca bukan hanya untuk mengenang penderitaan, tetapi untuk memahami
keteguhan.

Di tengah kehidupan modern yang semakin bergantung pada teknologi, perpustakaan mengingatkan kita bahwa manusia tetap membutuhkan buku, dialektika, dan kemampuan untuk membaca secara mendalam. Generasi hari ini memiliki akses informasi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Tetapi banyaknya informasi tidak otomatis melahirkan kedalaman berpikir. Karena itu, perjalanan ke Thaif menjadi semacam pengingat bahwa benar memang teknologi mempercepat informasi, tetapi membaca dan berdialktika justrubmemperdalam pengetahuan. Dan pengetahuan yang mendalam membutuhkan waktu, kesabaran, serta kemauan untuk berdialog dengan masa lalu.

Pemandangan pegunungan itu membuat kita merefleksi tentang kehidupan. Bukankah manusia juga seperti perjalanan menuju puncak? Ada jalan yang lurus, Ada jalan yang berkelok, Ada tanjakan. Ada pula titik ketika kita harus berhenti sejenak untuk menarik napas. Tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan kecepatan yang sama. Yang penting adalah mengetahui kemana kita menuju. Rasulullah pernah datang ke Thaif dalam keadaan penuh kesedihan. Tetapi sejarah kemudian membuktikan bahwa penolakan di Thaif tidak menjadi akhir perjalanan dakwah. Justru dari sana kita belajar bahwa satu pintu yang tertutup tidak selalu berarti seluruh jalan telah berakhir.

Ada pelajaran sederhana dari tanaman. Ia tidak memilih di mana ia dilahirkan. Ia hanya tumbuh dengan memanfaatkan apa yang tersedia. Barangkali manusia juga demikian. Kita tidak selalu bisa memilih situasi kehidupan. Tidak selalu bisa menentukan bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tidak selalu bisa mengatur kapan keberhasilan datang. Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita bertumbuh. Rasulullah menunjukkan kepada kita bahwa kesulitan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Seperti tanaman yang menemukan kehidupan di antara kerasnya tanah, begitu juga manusia yang dapat menemukan harapan di tengah keadaan yang sulit.

Angka 29 derajat Celcius yang semula hanya terlihat sebagai angka di termometer, berubah menjadi bagian dari cerita perjalanan. Ia adalah suhu udara. Tetapi sekaligus menjadi simbol. Dari panas menuju sejuk. Dari kesibukan menuju ketenangan. Dari perjalanan fisik menuju perjalanan batin. Dari sejarah menuju refleksi. Thaif mengajarkan bahwa kesejukan tidak selalu berarti tidak adanya kesulitan. Justru terkadang kesejukan baru terasa setelah seseorang melewati panas yang panjang. Demikian pula kehidupan.

Kita mungkin sedang berada dalam fase yang panas, menghadapi persoalan, penolakan, kehilangan, ketidakpastian atau perjuangan yang belum menemukan hasil. Namun sejarah Rasulullah di Thaif mengajarkan satu hal penting jangan menjadikan penolakan sebagai alasan untuk kehilangan harapan. Karena manusia tidak pernah tahu apa yang sedang dipersiapkan oleh waktu setelah sebuah kesulitan.

Ketika kendaraan kembali bergerak meninggalkan Thaif, pegunungan perlahan menjauh dari pandangan. Namun ada sesuatu yang tidak ikut pergi. Ia adalah kesan. Kesadaran bahwa kita baru saja mengunjungi sebuah kota yang pernah menjadi saksi salah satu fase paling berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah.

Kami datang dengan kendaraan. Menyusuri jalan pegunungan. Merasakan udara sekitar 29 derajat Celcius. Melihat tanaman yang tumbuh. Mendatangi masjid. Menyaksikan ruang-ruang yang menyimpan ingatan. Tetapi sesungguhnya, yang paling penting dari perjalanan ini bukan apa yang dilihat oleh mata. Melainkan apa yang dibawa pulang oleh ingatan.

Selama perjalanan kami ditemani oleh sosok muda yang penuh energi dan inspirasi, Ustaz Fajri Asiking, Lc. Di usianya yang masih 23 tahun, Ustaz Fajri hadir sebagai gambaran generasi muda Islam yang membawa semangat ilmu, keramahan, dan wawasan luas. Ia merupakan lulusan

Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, salah satu pusat keilmuan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam melahirkan para cendekiawan Muslim dunia. Konsentrasi keilmuannya pada bidang Ilmu

Hadis membentuk cara pandangnya yang mendalam dalam memahami pesan-pesan Rasulullah SAW, bukan hanya dari sisi teks, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Di balik usia mudanya, tersimpan semangat belajar dan kemampuan yang mengesankan. Sosoknya yang multi talenta menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengambil peran besar dalam menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus menjawab tantangan zaman modern. Ia menjadi contoh bahwa ilmu yang diperoleh dari berbagai belahan dunia tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi harus dibagikan dan memberi manfaat bagi orang lain.

Perjalanan bersama Ustaz Fajri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman spiritual kami. Kehadirannya mengingatkan bahwa perjalanan ibadah bukan hanya tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga tentang memperluas wawasan, memperkaya hati, dan menemukan makna dari setiap jejak sejarah yang dilewati.

Di tengah hiruk pikuk dunia modern, sosok muda seperti Ustaz Fajri memberikan pesan penting bahwa ilmu, akhlak, dan semangat berbagi tetap menjadi cahaya yang mampu membimbing generasi masa depan.

Thaif mengajarkan keteguhan, Makkah mengajarkan penghambaan, Madinah mengajarkan tentang hijrah, persaudaraan, peradaban, dan keteladanan. Dan perjalanan di antara ketiganya mengajarkan bahwa hidup adalah proses bergerak dari satu keadaan menuju keadaan berikutnya. Barangkali itulah makna perjalanan. Kita berangkat membawa pertanyaan, Kita pulang membawa perenungan. Dan di antara keduanya, kita belajar bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus berbicara kepada siapa saja yang mau mendengarkan.

Komentar

Berita Terkait

Iwan Sumule dan Beasiswa Anak-anak Para Aktivis
Memahami Investigasi Mendalam Pertambangan Ilegal
KEMANA REALISASI CSR dan PPM PERUSAHAAN
Gerak Cepat BPBD dan Komisi III DPRD Halsel Tinjau Lokasi Banjir di Soligi dan Wayaloar
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 04:40 WIT

29 DERAJAT CELCIUS DI KETINGGIAN 1.800 Mdpl (Catatan Perjalanan dari Makkah Menuju Thaif: Menyusuri Jejak Dakwah di Tengah Pegunungan Jeddah 29 September 2026)

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:22 WIT

Iwan Sumule dan Beasiswa Anak-anak Para Aktivis

Rabu, 20 Agustus 2025 - 07:17 WIT

Memahami Investigasi Mendalam Pertambangan Ilegal

Selasa, 17 Juni 2025 - 03:30 WIT

KEMANA REALISASI CSR dan PPM PERUSAHAAN

Sabtu, 14 Juni 2025 - 01:20 WIT

Gerak Cepat BPBD dan Komisi III DPRD Halsel Tinjau Lokasi Banjir di Soligi dan Wayaloar

Berita Terbaru