Oleh: Eko S Dananjaya
Satu tahun lebih satu bulan perjalanan beasiswa untuk anak-anaknya para aktivis itu berlangsung lancar dan positif. Tidak ada kendala, bahkan bisa dibilang sempurna dalam implementasi.
Mengapa kita bilang sempurna? Karena setiap tanggal 8 awal bulan, beasiswa tersebut sudah masuk ke rekening BNI milik masing-masing penerima manfaat. Bahkan, sebelum tanggal 8 dana beasiswa itu terkadang sudah terkirim.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
55 anak terdiri dari siswa maupun mahasiswa mendapat santunan biaya gratis untuk studi. Tentu saja bantuan dari Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan itu sangat bermanfaat. Anak-anak penerima beasiswa tampak tambah semangat dalam belajar. Dan orang tua terbantu oleh program ini.
Iwan Sumule adalah Wakil Kepala Badan Taskin yang memiliki komitmen besar terhadap kemajuan dalam bidang pendidikan anak-anak aktivis.
Ide atau gagasan Iwan Sumule dari era ke ara, jarang sekali dipunyai para aktivis yang sedang menjabat di pemerintahan. Tapi bagi Iwan Sumule, implementasi gagasan pemberian beasiswa ini sesuatu yang bermakna, baik untuk penerima beasiswa maupun orangtuanya. Iwan Sumule telah membuktikan bahwa beasiswa itu bukan berhenti sebatas ide, tapi dibuktikan sebagai perwujudan idealismenya ketika ia menjabat.
Iwan Samule bagian dari salah satu aktivis yang menorehkan tinta perubahan dari rejim diktaktor menuju pemerintahan demokrasi (reformasi).
Sebagai aktivis Ibu Kota, ia mendapat kemudahan bertemu dan menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh politik tingkat nasional. Proses pergaulan dengan para tokoh politik itu boleh dikata sebagai pijakan sekaligus sedikit banyak memberi warna pada Sumule.
Sebagai panutan dan referensi dalam kiprah aktifitas politiknya. Tokoh seperti Hariman Siregar, Rocky Gerung dan A Rahman Tolleng (almarhum) menginspirasi Iwan Sumule sebagai tokoh muda yang punya jam terbang tinggi
Nampaknya Mule (panggilan akrabnya) ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak. Ia bercita-cita ingin dapat mendistribusikan ide sosialismenya menjadi kenyataan.
Sebab selama ini, sosialisme dimaknai oleh banyak orang atau kaum intelektual dan para cendikia sebatas teori dan diskursus. Para pemikir menara gading itu mendapatkan keterbatasan dalam memfraksiskan sosialisme sebagai wujud realitas keperpihakan pada rakyat kecil.
Tapi bagi Mule, ide-ide sosialisme justru menjadi “roh perjuangan untuk di jadikan prakmentasi keberpihakan, kepedulian dan perwujudan pada kepentingan rakyat secara lebih luas”.
Ketika ia mendapat mandat sebagai pejabat Wakil Kepala BP Taskin, gagasan “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai pengejawantahan Pembukaan UUD 1945 alenia ke-empat dan dijabarkan secara operasional ke dalam pasal 31.
Program beasiswa ini langsung bersentuhan degan kepedulian pendidikan rakyat dan itu ia buktikan dengan nyata.
Selain menjadi pejabat, ia tidak merubah interaksinya dengan kaum oposisi, (entitas yang bersebrangan dengan kekuasaan atau pelawan program-program pemerintah). Namun demikian, ia mampu mengakomodasi dan menselaraskan perbedaan cara pandang kaum kritis dengan pemerintah.
Mule mampu menjadi perimbang dan akomodator yang baik bagi kaum pergerakan, kaum kritisme dengan kekuasaan. Keluh kesah aktifis dan problematika masyarakat yang belum tuntas itu dijadikan catatan untuk dicarikan solusi.
Disitulah pentingnya ia berada di tempat yang tepat, mengakomodasi atau menjadi jembatan antara kegelisahan rakyat dengan pemerintah. Oleh sebab itu, ia dipercaya oleh teman-teman aktifis untuk bertahan sebagai Ketua Prodem (Pro Demokrasi) hingga hari ini.
Selain itu ia juga menjabat sebagai wakil Kepala Badan Taskin. Jabatannya justru dijadikan sebagai alat untuk menterjemahkan sosialisme menjadi realitas bukan utopias.
Kedudukannya sebagai pejabat dijadikan instrumen untuk membuktikan bahwa pikiran tidak saja sebatas berada di kepala, tapi hasil pikiran perlu di distribuikan sampai ke piring-piring rakyat.
Pemeo kesejahteraan sampai ke piring2 rakyat itu bagi Mule bukan sekedar propaganda, tapi ia benar-benar menerapkan sebagai bukti keberpihakannya pada orang yang membutuhkannya.
Mule turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebab anak2 para aktifis telah mendapat bea siswa. Yang itu sangat membantu buat kelancaran belajar anak.
Program pemberian beasiswa dari Lembaga Taskin yang diprakarsai oleh Iwan Sumule, adalah tonggak sejarah bagi kaum aktifis pergerakan yang tidak akan dilupakan sepanjang masa.
Kiprahnya sangat besar terhadap masa depan anak-anaknya para aktivis. Iwan Sumule bukan lagi sekedar pejabat di era Prabowo. Tapi ia sudah menjadi ikon yang nyata di dalam perjuangannya.
Aktifis Prodem khususnya, pantas menyematkan penghormatan atas gagasannya dalam mensejahterakan anggota Prodem melalui program beasiswa atau lainnya.
Iwan Sumule mempunyai terobosan dan gagasan yang sangat mengena seperti situasi seperti sekarang ini. Yakni membantu bukan dalam bentuk Bansos sembako pada sebagian aktifis yang tergabung dalam Prodem.
Tapi bantuan itu dalam bentuk dana untuk beasiswa anak sekolah atau kuliah yang itu sangat bermanfaat dan menyentuh dunia pendidikan.
Kita sebagai aktivis yang dulu pernah sama-sama berjuang, melawan dan mengakhiri rezim otoriter Orde Baru. Dalam kenyataannya tidak semua aktivis sukses dan establis.
Satu hal dimana tidak semua aktivis dapat berkesempatan masuk ke dalam kekuasaan. Dan bagi aktivis yang ada di dalam kekuasan di era reformasi juga belum tentu dapat mempraktekkan gagasan atau kebijakannya. Perlu ada sebuah keputusan dan good will dari aktivis manakala ia akan merubah dan membentuk paradigma politik
Tentu saja good will nya yang berkaitan dengan urusan rakyat serta membawa dampak ekonomis pada internal aktifis.
Sebab, ada saja aktivis ketika mendapat kesempatan menjadi pejabat, menjadi Menteri, Kepala Badan, Direksi BUMN , Komisaris dsb bukan lagi membangun jaringan yang pernah mereka lakukan. Tapi nampaknya mereka sudah memiliki lingkungan yang berbeda dan membentuk ekslusifitas.
Padahal, sejatinya menjadi aktifis itu karena cita-cita serta semboyan bersama atas keresahan yang mereka rasakan pada masa lalu. Tetapi waktu terkadang dapat mengubah sikap seseorang menjadi mastodon yang ingin hidup dilingkungan barunya
Banyak rekan aktifis mengatakan: bahwa Mule tidak memiliki sifat jauh dari teman. Dia tidak mengambil jarak meski sekarang menjadi pejabat negara.
Ia bukan tukang sulap atau pesihir dalam menjalankan kebijakan pemerintah. Tapi ia mengalokasikan dana operasional pribadinya di digunakan buat kepentingan orang banyak. Dana itu dimanfaatkan menjadi anggaran beasiswa kepada 55 siswa dan mahasiswa, khususnya bagi anak-anak aktivis.
Kesadaran akan empati yang Mule rasakan bahwa tidak semua aktifis nasibnya beruntung dan menjadi orang kaya.
Ada aktifis yang hidupnya memilih menjadi penggiat UMKM, ada pebisnis, ada pengacara, jurnalis, penerliti, dosen, LSM, guru atau wiraswasta dll.
Tapi secara tingkatan sosial mereka berbeda-beda. Mule nampaknya dapat merasakan sekaligus tergerak untuk memberi bea siswa kepada anak didik yang nantinya akan menjadi generasi penerus orang tuanya yang dulu pernah berjuang dan berjasa untuk perubahan pada bangsa ini
Penulis adalah anggota senator Prodem dan penggiat media sosial.








