Yusrianto Hardi
Di banyak belahan Nusantara, desa-desa yang dulu dibangun di atas fondasi kebersamaan kini bergetar oleh bunyi mesin tambang. Bukan hanya dentuman batu yang retak dan tanah yang koyak, tetapi retakan yang lebih dalam: retakan pada semangat humanitarianisme lokal yang telah lama menjadi penopang kehidupan bersama.
Humanitarianisme dalam konteks lokal bukan sekadar istilah derma atau bantuan. Ia tumbuh sebagai nilai yang hidup sehari-hari: solidaritas dalam ritual panen, kerja bakti membangun rumah tetangga, tradisi saling menjaga anak-anak, hingga kewajiban moral untuk tidak membiarkan siapa pun kelaparan. Nilai ini menyulam etos kolektif yang membuat setiap orang merasa malu bila hanya mementingkan diri sendiri.
Namun kedatangan tambang—dengan janji modernitas, upah tunai, dan kilau infrastruktur—menggeser poros nilai itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dahulu, masyarakat memandang hidup sebagai anyaman nasib bersama. Jika satu keluarga berduka, semua tetangga turut hadir. Jika ada hajatan, semua bahu merangkai kerja tanpa menuntut upah. Anak-anak tumbuh dengan kebanggaan akan kebersamaan. Etos kolektif adalah hukum tak tertulis: siapa pun wajib peduli pada yang lain.
Kini, relasi sosial mulai dikalkulasi dalam logika transaksional. Orang yang dulu merasa cukup dengan kebun dan laut, digerakkan oleh godaan insentif individual: kontrak tenaga kasar, kompensasi lahan, pembelian perabot rumah tangga bermerek. Dari luar, geliat ini tampak sebagai peningkatan kesejahteraan. Namun di balik gemerlap konsumsi, lahir ruang-ruang curiga: siapa yang mendapat lebih banyak? Siapa yang diam-diam menandatangani kontrak? Siapa yang menjual tanah keluarga?
Pergeseran Budaya dan Etos Hidup
Pergeseran ini memukul kebudayaan yang bersandar pada kebersamaan. Simbol-simbol komunal—rumah adat, lumbung pangan kolektif, pesta panen—perlahan tergeser oleh rumah semi permanen milik individu dan narasi kemakmuran perseorangan. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan baru yang menilai harga diri dari barang yang dipakai, bukan kebaikan hati atau pengabdian pada kampung.
Etos kolektif perlahan berganti menjadi etos individualistik: kerja keras untuk diri sendiri, kebanggaan pada penghasilan, kebahagiaan yang diukur lewat kepemilikan. Rasa malu pun berubah arah: bukan lagi malu tidak membantu orang lain, melainkan malu bila tidak mampu membeli citra sukses.
Inilah paradoks tambang: ia membuka akses pada materi, tetapi sekaligus menutup ruang batin tempat solidaritas tumbuh. Lama-kelamaan, kerja bakti yang dulu menjadi ruang berkisah dan bercanda semakin langka. Warga yang dulu rela patungan memperbaiki jalan desa kini bertanya, “Siapa yang akan bayar saya kalau ikut kerja?”
Pecahnya Identitas Kolektif
Identitas komunitas yang dibangun dari sejarah bersama mulai retak. Generasi muda lebih bangga bekerja di perusahaan tambang ketimbang meneruskan kebun atau kearifan lokal. Mereka memandang cara hidup lama sebagai simbol keterbelakangan. Sebaliknya, yang menyambut industri dianggap “pembaru,” meski sering tak kuasa menolak polusi yang mencemari sungai, mematikan kebun, dan menciptakan ketergantungan pada gaji tambang.
Truk-truk raksasa melintas, debunya menyelimuti pohon jambu. Rumah yang dulu dicat warna cerah kini kusam—penghuninya sibuk mengejar bonus lembur. Di dalam rumah, televisi dan ponsel menjadi hiburan utama, menggantikan percakapan yang dulu memelihara rasa milik bersama.
Salah seorang warga, seorang lelaki paruh baya, berkata lirih, “Sekarang, kalau ada kematian, paling datang hanya keluarga dekat. Dulu, semua orang datang, entah kenal atau tidak.”
Krisis Humanisme Ekologis
Di balik semua ini, kita juga melihat krisis yang lebih luas: hilangnya humanisme ekologis. Dulu, alam bukan hanya sumber nafkah, tetapi ruang spiritual. Hutan menjadi tempat belajar tentang kesabaran. Sungai menjadi penghubung kampung, bukan sekadar jalur transportasi material tambang. Rasa hormat pada tanah dan air tumbuh dari kesadaran bahwa manusia hanyalah salah satu makhluk yang menumpang hidup.
Kini, logika produksi dan konsumsi menggusur kearifan itu. Individualisme ekonomi tumbuh di atas ekosistem yang rapuh. Ketika sungai tak lagi memberi ikan, tanah tak lagi bisa ditanami, dan polusi menjadi biasa, kita baru menyadari bahwa keterpisahan ini adalah ilusi yang mahal harganya.
Sebuah Pertanyaan Reflektif
Apakah betul kesejahteraan bisa dibeli, jika harga yang harus dibayar adalah retaknya ikatan antar manusia? Ketika relasi berubah menjadi transaksi, kita kehilangan bahasa empati yang dulu diwariskan dari generasi ke generasi. Anak-anak tumbuh dengan pola pikir kompetisi, bukan solidaritas. Orang dewasa sibuk mempertahankan penghasilan, lupa merawat kebersamaan.
Pada akhirnya, kita berdiri di persimpangan sejarah: antara kebudayaan yang mendahulukan kemanusiaan, atau peradaban baru yang hanya mengukur manusia dari produktivitas dan kepemilikan.
Seruan untuk Menjaga Warisan Terpenting
Sebelum lubang-lubang tambang menjadi kuburan kebersamaan, barangkali kita perlu bertanya: warisan apa yang ingin kita titipkan pada anak cucu—emas yang cepat habis, atau kebersamaan yang tak lekang oleh zaman?
Tambang mungkin mendatangkan fasilitas baru. Tetapi apakah rumah yang kokoh itu masih berisi kebersamaan? Apakah lampu yang terang itu mampu menggantikan percakapan di serambi?
Ketika semua yang bernama kebersamaan telah habis, barulah kita sadar: kekayaan terbesar sebuah kampung bukanlah mineral di perut bumi, melainkan rasa cukup dan rasa saling peduli yang dulu menjadikannya rumah.*









