Muhammad Mayzul
Sering kita dengar seruan “Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera” di berbagai aksi massa buruh. Namun kiranya apa arti seruan ini? Apa ini hanyalah slogan belaka untuk membakar semangat kaum buruh dalam aksi mereka atau seruan ini adalah sebuah kenyataan dan keniscayaan sejarah.
Dalam masyarakat kapitalis ini, dua kelas paling dominan adalah pemilik modal dan buruh. Kelas-kelas dan sektor-sektor tertindas lain, seperti tani dan nelayan, walaupun eksis dan bahkan jumlahnya lebih besar daripada kelas buruh, tidaklah memiliki posisi sosial dan ekonomi yang menentukan dalam masyarakat seperti halnya buruh. Sejarah pun telah menunjukkan bahwa dalam beberapa kesempatan, buruhlah yang memimpin dan akan menjadi penumbangan kapitalisme. Kelas dan sektor tertindas lain dapat memainkan peran besar dalam melawan kapitalisme, tetapi yang akhirnya dapat menuntaskan perlawanan ini adalah buruh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perlawanan terhadap pemilik modal bertumpu pada kepemilikan mereka akan pabrik, tambang, perkebunan, bank, dan alat-alat produksi, distribusi, dan finansial besar lainnya. Ini karena pada dasarnya alat produksilah sumber kekuatan ekonomi dan lantas politik mematahkan sumber kekuatan pemilik modal oleh karenanya mensyaratkan penyitaan alat-alat produksi milik mereka, dan kelas yang mampu melakukan ini adalah kelas yang sesungguhnya menjalankan roda-roda alat produksi tersebut yaitu, buruh. Nasionalisasi di bawah kontrol buruh, inilah program muktahir dari perjuangan buruh untuk menuju sosialisme karena sesungguhnya kapitalisme ini mengajak kita untuk menuju kembali ke zaman barbarisme.
Bilamana sektor-sektor industri penting dinasionalisasi di bawah kendali kaum buruh, maka sumber daya yang besar ini dapat digunakan untuk mensejahterakan banyak rakyat. Misalnya untuk kaum tani, nasionalisasi pabrik pupuk oleh buruh akan memungkinkan penyediaan pupuk murah. Begitu juga nasionalisasi perusahaan benih, pabrik traktor, dan perbankan, untuk menyediakan benih, traktor, dan kredit murah. Sebagai gantinya kaum tani bisa menyediakan hasil produk pertanian yang berkualitas tinggi dan terjangkau harganya untuk kaum buruh dan rakyat luas. Kaum buruh tidak punya kepentingan untuk memeras keringat kaum tani demi laba semata. Justru banyak sekali kaum buruh yang datang dari keluarga tani dan terlempar ke pabrik karena tanahnya diserobot atau kemiskinan yang pelik di desa. Selain itu, kaum buruh yang membentuk pemerintahan buruh akan dapat melindungi kaum tani dari penyerobotan tanah dan mengembalikan tanah-tanah petani yang dulu diserobot oleh pemilik modal. Hanya buruh yang dapat menuntaskan reforma agraria dengan sesungguh-sungguhnya.
Dengan program nasionalisasi dan industrialisasi, kaum buruh akan memimpin program penciptaan lapangan kerja untuk menyerap para penganggur dan kaum miskin kota yang terpaksa dipekerjakan serabutan demi sesuap nasi. Begitu banyak tenaga kerja yang disia-siakan oleh kapitalisme, yang sebenarnya bisa digunakan untuk membangun bangsa ini kalau ada sistem perencanaan ekonomi yang demokratis. Sistem pasar bebas kapitalisme sudah terbukti gagal dalam mendayagunakan sumber daya manusia rakyat Indonesia, sementara sumber daya alam kita dikuras untuk laba segelintir orang (Kapitalisme).
Inilah isi sesungguhnya dari slogan “Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera”. Inilah tugas historis kaum buruh, berkuasa untuk mensejahterakan rakyat luas. Untuk ini, maka buruh harus mengambil kepemimpinan gerakan melawan kapitalisme. Buruh dalam tuntutan-tuntutannya harus merangkul kelas dan sektor tertindas lainnya. Tidak cukup hanya menuntut upah tinggi saja. Tidak cukup hanya berserikat saja. Buruh harus berpolitik. Buruh harus berpartai, dengan partai bikinannya sendiri yang berbasiskan serikat-serikat buruh. Dengan organisasi ekonomi dan politik, maka buruh berhenti menjadi bahan mentah eksploitasi dan berubah menjadi agen aktif untuk mencapai tatanan masyarakat sosialis.
Diera sekarang ini kebanyakan buruh yang melakukan kesadaran dirinya (Demonstrasi) yang mengakui tertindas oleh kapitalisme sesungguhnya sering di anggap sebagai kelakuan anarkis tetapi tidaklah demikian, ini adalah unjuk rasa yang dilakukan oleh kaum buruh. 6 desember 2025 kemarin diupdate melalui media JAKARTA.NIAGA.ASIA kementrian perindustrian terus memperkuat arah pembangunan industrialisasi nasional melalui implementasi strategi baru indiustrialisasi nasional (SIBN). Rapat ini disusun untuk memperkuat struktur industrialisasi dan menjawab tantangan pembangunan ekonomi. Arah tersebut kemudian disinergikan dengan visi pembangunan jangka panjang dalam RPJPN 2025-2045 sehingga strategi industrialisasi yang dirumuskan lebih komperensif dan sejalan dengan tujuan Indonesia menjadi Negara maju.
Namun rapat ini bukanlah jalan satu satunya, ada alasan tertentu mengapa kelas penguasa melakukan demikian. Ada alasan mengapa para pemimpin reformis ini selalu menjauhkan buruh dari anggota tubuhnya Marxis, Engles, Lenin dan Trotsky. Karena marxisme itu benar. Pada akhirnya kita harus kembali menggali marxisme. Bukan untuk memperbahuruinya, bukan untuk menafsir ulang, melainkan kembali ke akar sejatinya. Hanya dengan demikian kaum buruh bisa mengklaim kembali May Day mereka dari tangan penguasa dan pembantu-pembantu setia mereka yaitu pembela kapitalisme yang sering berteriak “we are working clas” tetapi sesungguhnya mereka adalah “traitors to the working clas”. Tetaplah menyuarakan suara Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera, karena demokrasi tidak akan pernah terjadi selama kapitalisme masih hidup.*









