Oleh : M. Maizul & Lev Letor
“Hidup bukanlah perkara mudah.. Anda tidak dapat menjalaninya tanpa jatuh ke dalam frustasi dan sinisme kecuali Anda memiliki gagasan besar yang mengangkat Anda di atas kesengsaraan pribadi, di atas kelemahan, di atas segala macam pengkhianatan dan kehinaan”. [Leon Trotsky]
Kaum muda dan para pegiat literasi bahkan kelompok Gerakan di Indonesia hampir jarang skali setelah di amati, mereka justru belum bersentuhan dengan gagasan seorang tokoh revolusioner sejati yang berapi-api membela serta memimpin revolusi Soviet kala itu. Bahkan juga saat kita lihat sebagian kelompok Gerakan yang membaca teori-teori Gerakan kiri ternyata mereka menyepelehkan tokoh yang gagah berkarisma atau sering kali di sebut singa podium dan pemimpin tentarah mera Soviet itu. Di sini muncul pertanyaan sederhana, siapa sebetulnya orang atau sang tokoh pemimpin revolusi itu?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya akan menjabarkan dengan singkat perjalanan serta perspektif yang majuh dari tokoh tersebut, tokoh yang gemilang itu, Lev Davidovich Bronstein Namanya, dengaan sapaan akrab dalam tradisi revolusionernya dia di kenal dengan nama Leon Trotsky, seorang Marxis revolusioner ia, bersama Lenin, salah satu pemimpin paling terkemuka dari revolusi 1905 dan revolusi Oktober 1917, menjadi korban pembunuhan yang secara khusus diperintahkan oleh Joseph Stalin. Trotsky sendiri lahir pada tahun 1879 di Yonovka, Rusia skarang di kenal Ukraina ia hendaka merupakan anak kelima dari delapan bersaudara, Ayah dan Ibunya adalah seorang petani, mereka bagian dari keluarga yahudi, dari hasil pertanian dan upaya kerja keras meraka justru hidup sebagai petanih menengah yang berkecukupan. Trotsky hudup dalam lingkaran petani dan melihat kenyataan bahwa petani justru di hisap, hingga membuatnya menjadi seorang pemuda yang membenci ketidakadilan.
Saat Trotsky berusia Sembilan tahun dia kemudian di kirim oleh Ayahnya ke Kota Odesa untuk melanjutkan Pendidikan dasarnya di sana, Odesa merupakan Kota yang hampir berbeda dari Kota-kota lain di Rusia Kota ini di kenal sebagai Kota yang metropolitan, penuh dengan kehidupan, ini tentu berbeda dari Desa di mana Trotsky lahir. Kota tersebut Trotsky mulai menyerap segala yang sifatnya urban, namun juga dia tetap berprgian pulang kala harinya di musim panas. Dari setiap perjalanan ini ia namun melihat serta merasakan perbedaan antara pedesaan yang feodal, dan Kota yang modern serta maju. Disekolahnya dia sangat keras kepala, sering melawan gurunya dia membenci sikap feodal bahkan diktator dari guru serta sistem Pendidikan di Rusia yang semakin hari kian mencekik, tak berselang lama dari sikap pemberontaknya itu dia hendak dikeluarkan dari sekolah.
Pada etape lebih jauh Rusia saat memasuki era industri akhir abad 19, Rusia dengan sebuah kramik sistem feodal yang kental dengan kaum tani berskalah besar, di era itu juga di Rusia memasuki corak produksi kapitalis dengan pasokan dari eropa barat. Negri-negri di sana mulai dibangun pabrik-pabrik dengan tujuan basis ekonomi politik kapitalis, pada saat yang sama para petani terlempar di dalam pabrik-pabrik tersebut. Ini juga menunjukan tumbuhnya kaum proletariat atau buruh upahan di negri itu dengan sangat pesat, tidak hanya dalam jumblah namun juga dalam kesadaranya, hingga resistensi-resistensi kaum buruh di setiap pabrik mulai ada di sana. Dalam proses yang berkembang dengan begitu pesat, posisi Trotsky yang berumur 18 tahun hendak mulai terlibat aktif di gerakan buruh, dimana para buruh saat itu dihisap dan dicibiri atas kepentingan industri kepitalisme, Trotsky membantu mengorganisasi Serikat Buruh Rusia Selatan di Nikolayev pada awal tahun 1897. Tidak berselang lama dia dan 200 anggota serikat buruh tersebut dipenjara, lalu dikirim ke pengasingan di Siberia. Pada tahun 1902, dia melarikan diri dari Siberia dan pindah ke London dimana dia pertama kalinya bertemu dengan Lenin, dan lalu membantu Lenin menerbitkan koran Iskra.
Pada tahun 1905, Trotsky menyelinap kembali ke Rusia dan aktif dalam gerakan bawah tana, ia juga melakukan agitasi dan propaganda kepada massa sekalipun ia terhimpit atas tekanan Tesar. Lalu dari upaya-upaya kerja agitasi politik itu hendak bembuka jalan tembakan pertama Revolusi 1905 atau sering di sebut gladi-resik revolusi yang meledak di Rusia hingga pembentukan Soviet yang pertama di St. Petersburg dimana Trotsky terpilih menjadi presidennya. Namun juga Revolusi ini tak bertahan hingga harus menemui kegagalan, dan Soviet St. Petersburg dibubarkan dan Trotsky beserta pemimpin-pemimpin Soviet lainnya ditangkap dan diasingkan lagi ke Siberia. Dari pengalaman Revolusi 1905, yang disebut Trotsky sebagai “latihan untuk Revolusi”, dan (terbukti dari tiga kata sederhana itu terkonfirmasi dalam capaiaan revolusi Oktober 1917) Trotsky menganalisa prospek revolusi untuk Rusia di dalam bukunya Hasil dan Prospek pada tahun 1906 yang merupakan formulasi teori revolusi permanennya yang pertama. Dalam analisis tersebut dari beberapa gagasan trotsky ini jelas membawa Pelajaran penting dari revolusi.
Adapun dinamika panjang yang menjadi poin dalam perjuangan Trotsky dimana dengan intervensi imprialis untuk menciptakan tindensi atau siklus global yang berbasiskan kepentingan Barat sebagai pembagian wilayah okupasi demi akumulasi kapital hinga harus meluncurkan Perang Dunia Pertama pada tahun 1914. Dalam konteks ini Trotsky bersama-sama dengan Lenin dan kaum revolusioner lainnya menentang perang imperialis itu, sedangkan hampir semua partai-partai Sosial Demokrasi yang tergabung di Internasional Kedua mendukung perang ini. Perang Dunia Pertama ini menggoncang situasi politik di Rusia dan akhirnya mendorong Revolusi Februari 1917 yang menumbangkan Tsar, dan lalu disusul oleh Revolusi Oktober 1917 yang membawa kelas pekerja ke tampuk kekuasaan.
Setelah kemenangan Revolusi Oktober, Trotsky menjabat sebagai Komisar Rakyat untuk Masalah Luar Negeri sampai tahun 1918. Lalu dia duduk sebagai pemimpin Tentara Merah, dan membangun Tentara Merah yang pertama untuk melawan serangan dari 18 negara imperialis dan Tentara Putih yang ingin menghancurkan negara Soviet yang masih muda ini. Dengan kereta apinya yang bergerak dengan cepat dari satu front ke front lain, Trotsky memberikan kepemimpinan militer dan politik untuk Tentara Merah di dalam perang sipil (1918-1922). Akhirnya mereka berhasil mengalahkan pasukan imperialis dan Tentara Putih.
Tapi juga pada aspek yang lain Uni Soviet mengalami kemunduran dan luluhlantanya secara ekonomi dan moral akibat perang sipil, dan terisolasinya Uni Soviet akibat revolusi-revolusi Eropa Barat yang gagal, kedua faktor utama ini menyebabkan kemunduran di dalam revolusi dan kebangkitan kaum birokrasi dan reformis. Ini terefleksikan di dalam perjuangan internal di dalam partainya revolusi Rusia, yakni Partai Komunis Uni Soviet. Setelah kematian Lenin pada tahun 1924, kaum birokrat yang direpresentasikan oleh Stalin mulai melakukan konter-revolusi di dalam PKUS, dengan menekan demokrasi di dalam Partai dan menggagaskan teori “sosialisme di satu negara” dan teori “dua-tahap”. Trotsky beserta pendukungnya membentuk kelompok Oposisi Kiri untuk melawan kelompok Stalinis, terutama untuk melawan kebijakan Komintern yang keliru dalam permasalahan Revolusi Cina 1927. Akan tetapi mereka gagal dan anggota-anggota Oposisi Kiri dipecat dari partai dan diasingkan. Trotsky dipecat dari PKUS pada tahun 1927, diasingkan ke Alma Ata pada tahun 1928, lalu dikeluarkan dari negara Uni Soviet pada tahun 1929. Setelah pengusiran Trotsky dari Uni Soviet, hampir semua pendukung Trotsky menjadi bimbang dan akhirnya banyak dari mereka menyerah kepada Stalin walaupun pada akhirnya mereka semua dieksekusi.
Dari tempat pengasingannya di Turki (1929-1934) dan Meksiko (1934-1940), Trotsky meluncurkan perjuangan ideologinya melawan Stalin, menganalisa degenerasi Uni Soviet (di dalam karya historisnya Revolution Betrayed), menganalisa relasi kelas dari fasisme (Apa itu Fasisme dan Bagaimana Melawannya), dan mempertahankan tradisi Revolusi Oktober. Dari tempat pengasingannya, Trotsky mengorganisir kelompok Oposisi Internasional yang menyatukan semua pendukung-pendukungnya di seluruh panca benua.
Pada tahun 1938, dia dan pendukung-pendukungnya membentuk Internasional Keempat, dan dokumen historis Program Transisional dilahirkan yang menjadi dasar dari organisasi ini. Awalnya, Trotsky menentang pembentukan partai komunis tandingan atau organisasi komunis internasional tandingan, karena dia percaya bahwa mereka masih bisa dihidupkan kembali. Tetapi setelah menyaksikan bagaimana partai-partai komunis tidak mampu berbuat apa-apa di hadapan fasisme dan membiarkan bangkitnya Nazi Jerman (dimana setelah kemenangan Hitler di Jerman pada tahun 1933, Stalin dan Partai Komunis Jerman tidak merasa kawatir dan dengan bangga mengatakan: “Setelah Hitler, giliran kita”, Trotsky menyatakan “Sebuah organisasi yang tidaklah bangkit karena guntur fasisme dan tunduk dengan patuh kepada aksi-aksi birokrasi yang menjijikkan, maka dari itu organisasi ini menunjukkan bahwa ia telah mati dan tidak ada yang bisa dihidupkan kembali darinya.” (Baca : Revolusi yang di khianati 1936)
Pada tahun 1936, Pengadilan Moskow diluncurkan untuk mengadili ‘kejahatan Trotskisme’. Ribuan orang diadili, dinyatakan bersalah atas dosa ‘Trotskisme’ dan dieksekusi. Trotsky sendiri diadili in absentia dan dinyatakan bersalah. Akan tetapi, Trotsky tidak luput dari eksekusi ini, karena pada tahun 1940 dia dibunuh oleh agennya Stalin di Meksiko pada tahun 1940. Pada tanggal 20 Agustus 1940, akhirnya agennya Stalin berhasil membunuh Trotsky setelah percobaan sebelumnya yang gagal. Ramon Mercader, nama pembunuh Trotsky tersebut, menyusup ke lingkaran Trotsky dengan menyamar sebagai pengagum dan pendukung Trotsky. Siang hari, dia masuk ke kantor Trotsky untuk menanyakan pendapat Trotsky mengenai tulisannya. Lalu dari belakang, dia mengayunkan kapak es ke kepala Trotsky. Pukulan ini belum mematikan Trotsky dan dia bergulat melawan pembunuhnya untuk mencegahnya dari menghantarkan pukulan-pukulan selanjutnya. Mendengar teriakan Trotsky, penjaganya masuk ke kantornya dan menangkap Mercader. Trotsky dibawa ke rumah sakit, tetapi meninggal sehari sesudahnya pada tanggal 21 Agustus 1940. Akhir hidup Trotsky baiknya ditutup dengan kata-katanya sendiri di dalam surat warisannya (Trotsky’s Testament, 27 Februari 1949):
“Selain kebahagiaan menjadi seorang pejuang untuk sosialisme, nasib telah memberikan saya sebuah kebahagiaan menjadi suaminya (Natalia Ivanovna Sedova). Selama hampir 40 tahun kita bersama, dia tetap menjadi sumber cinta, kasih sayang, dan kebaikan yang tidak ada habisnya. Dia telah melalui kesengsaraan-kesengsaraan yang sulit, terutama di periode terakhir kehidupan kita. Tetapi saya menemukan sedikit kelegaan karena dia juga menikmati hari-hari yang bahagia. Selama 43 tahun dari kehidupan saya yang sadar, saya masih tetap seorang revolusioner. Selama 42 tahun dari itu, saya telah berjuang di bawah panji Marxisme. Bila saya harus mengulangi semuanya lagi, tentu saja saya akan mencoba menghindari kesalahan ini atau itu, tetapi alur utama dari kehidupan saya tidak akan berubah. Saya akan meninggal sebagai seorang proletar revolusioner, seorang Marxis, dan seorang dialektika-materialis, dan seorang ateis.
“Kepercayaan saya terhadap masa depan komunis dari umat manusia tidaklah berkurang, sebaliknya ia bertambah kuat hari ini dibandingkan saat hari-hari muda saya. Natasha baru saja membuka jendela yang menghadap taman rumah dan membukanya dengan lebar sehingga udara segar bisa masuk ke kamarku dengan bebas. Saya dapat melihat hijaunya rumput-rumput dan langit yang biru, dan sinar matahari dimana-mana. Hidup itu indah. Biarlah generasi masa depan membersihkannya dari semua yang jahat, opresi, dan kekejaman, dan menikmatinya sepenuhnya.” (Baca : Revolusi yang di khianati 1936)
Dalam penjabaran singkat di atas menunjukan posisi bagiamana Trotsky sang revolusioner sejati ini hidup penuh gejolak, peristiwa yang ia dorong untuk melawan kapitalisme atau kekuasaan yang menindas. Untuk mempelajari semua ini Trotsky sendiri mengunakan matarantai ‘Analisa Marxis’ menjabarkan gagasan-gagasan revolusionernya dalam sekian banyak karya, ia sajikan untuk memberikan didikasi kepada kaum muda dan kelas pekerja. Seperti halnya dalam karya yang ia sajikan mengenai ‘Hasil dan Prospek’ yang di formulasikan dalam (Revolusi Permanen), hampir dibilang atau kelompok Gerakan di Indonesia masih mencibirinya bahkan menganggap tidak relevan, tapi pada kenyataannya yang ia tulis sejak lama itu justru seratus kali lebih benar hari ini dibandingkan saat ia menulisnya. Mari kita lihat. Pada proses perkembangan karya-karya Trotsky diterbitkan di Indonesia, seperti halya yang sudah disebutkan di atas bahwa karya trotsky yang hendak menjadi perbincangan antara yang bersepekat denganya serta juga yang tidak, bahkan mencibirinya, hal serupa tak hanya di Rusia tetapi juga di Indonesia.
Kebuntuan dalam masyarakat Indonesia telah membawah rakyat kedalam lumpur kemiskinan dan penderitaan, oleh seabab itu, tidak heran kalau revolusi lantas menjadi jalan harapan bagi kaum muda dan kelas pekerja di setiap industri yang resah. Karya “Revolusi Permanen” Leon Trotsky adalah landasan pijakan revolusi untuk membangun kekuatan serta pendirian negara buruh, dalam karya ini juga menjadi seruan yang memiliki konten dalam praktek politiknya dari pelopor revolusioner, dan tidak secara akademis, kaku mengartikulasikan gagasan itu. Karya dan upaya trotsky, ini justru menjadi bukti, dengan pengalaman dari seorang yang terlibat langsung di dalamnya, dan oleh karenanya lebih relevan dan berguna bagi mereka-mereka yang sungguh ingin mengetahui apa itu revolusi dan bahkan bagaimana mengobarkannya.
Dalam konteks sejarah Indonesia sangatlah terkait dengan sejarah Revolusi Oktober di Rusia, dimana Trotsky dan teori Revolusi Permanennya memainkan peran sentral. Revolusi Oktober menginspirasi banyak sekali tokoh-tokoh nasionalis awal Indonesia, sebut saja dua Bapak Bangsa kita: Tan Malaka dan Soekarno. Partai Komunis Indonesia lahir pada 1921 karena gelombang revolusi dari Rusia, dan partai yang pertama kali melakukan perjuangan politik serius untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda. Lalu pada periode 1950-1965, PKI adalah partai politik utama dalam periode demokrasi Indonesia yang pertama sejak kemerdekaannya, dan penumpasannya yang penuh darah pada 1965-66 adalah fondasi dari kediktatoran Soeharto selama 32 tahun kemudian. Dalam kata lain, kita tidak bisa berbicara mengenai sejarah Indonesia tanpa berbicara mengenai Partai Komunis Indonesia, dan oleh karenanya Revolusi Oktober yang merupakan inspirasi kelahiran Partai Komunis Indonesia, dan tentunya kebijakan-kebijakan politiknya.
Perspektif Trotsky yang di maksud adalah buku revolusi permanen yang mana diterbitkan di Indonesia hendak menemukan tidak sedikit orang yang mencibir gagasan-gagasan yang ada di dalamnya dengan argumentasi bahwa “Indonesia bukan Rusia”, (Indonesia karakternya unik) dan komentar-komentar serupa lainnya. Tetapi orang-orang yang sama tidak keberatan menggunakan teori-teori sosial lainnya yang notabene juga diimpor dari luar. Oleh karenanya, cibiran dan anggapan serta kritik atas gagasan trotsky sesungguhnya dangkal, dan tidak perlu kita gubris. Banyak yang bisa kita pelajari dari Revolusi Rusia apalagi yang benar adanya di formulasikan dalam bukunya trotsky, dan mereka-mereka yang menolak untuk belajar dari semua ini adalah mereka yang bodoh memaknai peristiwa. Ketidaktahuan tidak membantu siapapun, begitu kata Marx.
Bagi mereka yang jeli dengan kondisi politik dan ekonomi Indonesia, membaca karya ini akan membuat mereka sadar bahwa tidak banyak yang berubah dalam politik secara fundamental. Masalah-masalah yang dihadapi oleh Trotsky dan kaum Marxis Rusia ratusan tahun yang lalu masih terulang lagi dan lagi sampai hari ini. Hukum-hukum dasar ekonomi dan politik tidak mengenal batas waktu dan ruang, dan inilah kekuatan dari metode Marxisme yang mampu menggeneralisasi peristiwa-peristiwa. Membaca “Hasil dan Prospek” yang ditulis Trotsky pada 1905, dimana dia menganalisa perkembangan kapitalisme di Rusia, seperti membaca perkembangan kapitalisme di Indonesia, dimana kapitalisme datang terlambat dan bahkan dicangkokkan dari luar lewat modal asing.
Trotsky menggambarkan bagaimana kelas borjuasi Rusia impoten dalam menghadapi rejim absolutisme Tsar, yang tidak berbeda banyak secara fundamental dari keimpotenan kelas borjuasi Indonesia dalam menghadapi rejim kediktatoran Soeharto dan kekuasaan modal asing, karena alasan yang sama: mereka sama sekali tidak tertarik pada demokrasi atau pembebasan nasional. Kalau mereka sekali-kali berbicara mengenai demokrasi dan kedaulatan bangsa, ini hanya ujar-ujaran yang tidak konsisten dengan tindakan dan upaya mereka.
Di dalam karya ini, kemandirian politik kaum buruh adalah tema penting yang terus ditekankan oleh Trotsky, bahwa hanya kediktatoran proletar yang pada akhirnya bisa menyelesaikan semua masalah-masalah bangsa. Buruh tidak boleh bersandar pada kelas borjuasi nasional, yang dalam perjuangan mereka untuk demokrasi dan pembebasan nasional tidak pernah konsisten, penuh keraguan, dan penuh pengkhianatan. Trotsky mengatakan:
“Apapun kondisinya, kaum proletar harus melihat dengan jelas jalan yang harus ditempuhnya dan menempuhnya dengan sadar. Dan yang terutama sekali, ia harus bebas dari ilusi-ilusi. Dan ilusi terburuk dalam seluruh sejarahnya, yang sampai sekarang masih diderita oleh kaum proletar, adalah ilusi ketergantungan pada orang lain.”
Catatan sederhana ini dalam basis yang paling jauh adalah untuk melihat analisis dan perjuangan trotsky, sebagai landasan dan Pelajaran untuk kaum muda serta klas pekerja. Mari kita ambil konten terbaik dari setiap gagasan-gagasan trotsky, mari kita bekerja untuk mewakafkan diri kita pada tujuan untuk revolusi.(*)









