R.Libahongi
Tanggal 10 November selalu mengingatkan bangsa ini pada keberanian dan pengorbanan para pahlawan. Di hari itu, kita mengenang mereka yang dengan gagah berani menantang penjajahan, mengorbankan segalanya demi tegaknya kemerdekaan. Namun, di tengah gegap gempita peringatan Hari Pahlawan, muncul pertanyaan yang menggelitik nurani: masih adakah pahlawan di tengah zaman yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi dan kekuasaan? Dan lebih dekat lagi, bagaimana makna kepahlawanan itu hidup di Maluku Utara hari ini tanah yang kaya, tetapi juga terluka oleh tambang?
Maluku Utara bukan sekadar gugusan pulau eksotis di timur nusantara. Provinsi ini adalah saksi sejarah panjang perjuangan bangsa, rumah bagi para pemimpin besar seperti Sultan Nuku dari Tidore seorang pahlawan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan dan harga diri bangsa dari cengkeraman kolonial. Sultan Nuku berjuang bukan demi tahta, melainkan demi rakyat dan kedaulatan tanah air. Ia menolak tunduk pada kekuasaan asing dan menunjukkan bahwa perjuangan sejati lahir dari keberpihakan pada kepentingan bersama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, bila Sultan Nuku hidup di masa kini, mungkin ia akan berduka menyaksikan kenyataan Maluku Utara hari ini. Tanah yang dulu subur kini banyak yang tergali, laut yang biru kini tercemar, dan masyarakat yang dahulu hidup dari bumi kini justru kehilangan tanahnya. Tambang nikel dan industrialisasi besar-besaran memang membawa janji pembangunan, tetapi sering kali menyisakan ketimpangan, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan sosial. Ironisnya, kekayaan yang seharusnya menjadi berkah justru menjadi sumber luka.
Dalam situasi seperti ini, kita perlu menafsir ulang makna kepahlawanan. Menjadi pahlawan hari ini bukan lagi soal mengangkat senjata, melainkan keberanian untuk melawan ketidakadilan dan memperjuangkan kebenaran. Di Maluku Utara, pahlawan masa kini mungkin adalah nelayan yang berani menolak pencemaran laut, petani yang berjuang mempertahankan tanahnya dari penggusuran, guru yang tetap mengajar di pelosok, atau anak muda yang menulis kebenaran di tengah tekanan. Mereka adalah penjaga nilai-nilai keadilan, keberanian, dan kemanusiaan nilai yang sama yang diperjuangkan oleh para pahlawan kemerdekaan.
Sayangnya, semangat itu kini sering tenggelam dalam hiruk pikuk politik dan kepentingan ekonomi. Banyak yang memilih diam, banyak pula yang kehilangan idealisme. Padahal, tanpa keberanian moral, pembangunan hanya akan melahirkan generasi yang apatis — generasi yang sibuk membangun gedung, tapi lupa membangun karakter.
Hari Pahlawan seharusnya menjadi cermin bagi kita semua, khususnya bagi pemimpin dan generasi muda Maluku Utara. Di tengah derasnya investasi tambang, kita ditantang untuk bertanya: apakah pembangunan yang kita kejar benar-benar memerdekakan rakyat, atau justru menindas mereka dalam wajah baru penjajahan ekonomi?
Sultan Nuku telah memberi teladan bahwa perjuangan tidak boleh kehilangan arah moral. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa keberpihakan adalah kehampaan, dan pembangunan tanpa kemanusiaan adalah penindasan baru. Maka, di Hari Pahlawan ini, mari kita temukan kembali semangat kepahlawanan itu bukan di medan perang, tetapi di hati nurani kita masing-masing.
Karena sejatinya, pahlawan tidak lahir dari sejarah yang besar, tetapi dari keberanian melakukan hal benar di tengah zaman yang salah.
Dan mungkin, di tanah tambang Maluku Utara yang penuh luka ini, kita masih bisa menemukan pahlawan jika kita berani menjadi satu di antaranya. Dengan berani bertanya jujur bahwa: tanah yang dahulu dikenal sebagai negeri rempah, kini perlahan kehilangan aroma cengkih dan pala yang pernah memabukkan dunia. Gunung-gunung yang dulu hijau kini berubah warna ditelanjangi alat berat, dikoyak demi bijih nikel. Dan setelah semuanya diambil, apalagi yang akan di titipkan pada generasi masa depan selain kerusakan dan ketimpangan ?*









